Media Reformasi Indonesia (MRI): reformasi news
Tampilkan postingan dengan label reformasi news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reformasi news. Tampilkan semua postingan

02 Oktober 2026

Ketua Pokdarkamtibmas Bhayangkara Resor Metro Bekasi Kota: Selamat Mengemban Amanah Kepada Kapolri dan Wakapolri Baru


REFORMASI ID | Kota Bekasi - Presiden Prabowo Subianto melantik Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) dengan Pangkat Jenderal Polisi dan Komisaris Jenderal Polisi Wahyu Hadiningrat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (1/10/2026).

Pelantikan tersebut mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat termasuk Pokdarkamtibmas Bhayangkara yang selama ini aktif sebagai Mitra Polri dalam Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Harkamtibmas). 

Melalui H.M. Suyatno, S.E., Ketua Pokdarkamtibmas Bhayangkara Resor Metro Bekasi Kota, menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Suyudi Ario Seto dan Wahyu Hadiningrat atas amanah baru yang dipercayakan negara kepada keduanya. 

Menurutnya, pergantian kepemimpinan di tubuh Polri merupakan bagian dari dinamika organisasi sekaligus momentum untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat serta menjaga keamanan dan ketertiban di seluruh Indonesia.

"Semoga senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, dan kebijaksanaan dalam memimpin Polri, serta amanah dalam memberikan pelayanan, perlindungan, dan penegakan hukum terbaik bagi masyarakat Indonesia."

Pelantikan  berlangsung setelah DPR RI menyetujui pengangkatannya sebagai Kapolri melalui Rapat Paripurna DPR RI. Sebelumnya, Komisi III DPR RI menyetujui Suyudi secara aklamasi setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test.

Suyudi menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolri. Sebelum ditetapkan sebagai Kapolri, Suyudi tercatat menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

Dalam agenda pelantikan tersebut, Presiden Prabowo juga melantik Komisaris Jenderal Polisi Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri.

Sebelumnya, Wahyu Hadiningrat menjabat sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Perencanaan dan Anggaran.


Keputusan Presiden mengenai pengangkatan Suyudi Ario Seto dan Wahyu Hadiningrat dibacakan oleh Sekretaris Militer Presiden Mayor Jenderal TNI Wahyu Yudhayana.

"Pokdarkamtibmas Bhayangkara siap terus memperkuat sinergi dan komunikasi dengan Polri dalam mendukung terciptanya situasi kamtibmas yang aman dan kondusif. Kami berharap kepemimpinan Kapolri dan Wakapolri yang baru dapat semakin memperkuat semangat pelayanan kepada masyarakat serta membangun kolaborasi dengan seluruh elemen bangsa,” pungkas H. Suyatno.  (AW)




























16 September 2026

Jelang HUT ke-81 TNI, Kodaeral VIII Bersama TNI-Polri dan Pemkot Manado Bersihkan Pasar Bersihati

 



REFORMASI-ID | MANADO — Menjelang peringatan HUT ke-81 TNI, sekitar 200 personel TNI, Polri, dan Pemerintah Kota Manado turun tangan membersihkan kawasan Pasar Bersihati, Manado, Selasa, 15 September 2026.

Kegiatan teritorial tersebut dihadiri Wakil Komandan Kodaeral VIII Laksma TNI Tony Herdijanto, S.E., M.Sc., mewakili Dankodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., M.Tr.Opsla.


Pembersihan diawali apel kelengkapan. Personel kemudian menerima peralatan kebersihan sebelum bergerak membersihkan sejumlah bagian kawasan pasar. Pengarahan juga diberikan mengenai pentingnya menjaga kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan lingkungan pasar yang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Bagi penyelenggara, kegiatan itu tidak semata-mata menyangkut kebersihan lingkungan. Aksi bersama tersebut menjadi ruang bagi TNI, Polri, dan pemerintah daerah untuk membangun kepedulian terhadap fasilitas publik sekaligus memperkuat semangat gotong royong.

Sekitar 200 personel terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari Korem 131/Santiago, Kodaeral VIII, Lanud Sam Ratulangi Manado, Polresta Manado, Satbrimob Polda Sulut, Satpol PP Kota Manado, serta Dinas Lingkungan Hidup Kota Manado.


Kawasan pasar menjadi sasaran karena aktivitas perdagangan yang berlangsung setiap hari menghasilkan mobilitas warga dan volume sampah yang perlu dikelola secara bersama.

Melalui kegiatan tersebut, TNI menyatakan kontribusinya dalam mendukung program pemerintah daerah, terutama dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata. Momentum menjelang HUT ke-81 TNI juga dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antara aparat dan masyarakat.

Sejumlah pejabat turut hadir, antara lain jajaran Danlanud Sam Ratulangi Manado dan PJU Lanudsri, Kadister Kodaeral VIII, Pamen Sahli Kodam XIII/Merdeka bidang Sishaneg, Sahli F Binpotnaskuatmar Pok Sahli Kodaeral VIII, Kadis LHK Manado, Direktur Utama Perumda Pasar Bersihati Manado, serta pejabat terkait lainnya.


Bersihnya pasar bukan hanya soal sampah yang diangkut. Di ruang publik seperti Pasar Bersihati, kebersihan menjadi bagian dari kenyamanan warga dan keberlangsungan aktivitas ekonomi sehari-hari.

05 Juli 2026

Babinsa Koramil 02/Pondok Gede Sisir Permukiman Warga Bersama Satpol PP dan Linmas, Antisipasi Gangguan Kamtibmas


REFORMASI- ID | Kodam Jaya - Kota Bekasi 
- 5/7/2026 Babinsa Koramil 02/Pondok Gede Kodim 0507/Bekasi melaksanakan patroli kewilayahan bersama personel Satpol PP dan Linmas dengan menyisir sejumlah permukiman warga di wilayah Kecamatan Pondok Gede. Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat.

Patroli diawali dengan apel dan pengecekan personel sebelum bergerak menuju sejumlah titik yang dinilai rawan. Dalam pelaksanaannya, petugas menyambangi kawasan permukiman, ruang publik, serta lokasi yang menjadi tempat berkumpulnya warga. Selain melakukan pemantauan situasi, Babinsa juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan lingkungan, meningkatkan kepedulian terhadap kondisi sekitar, serta segera melaporkan kepada aparat apabila menemukan hal-hal yang berpotensi mengganggu Kamtibmas.

Sinergi antara TNI, Satpol PP, dan Linmas menjadi wujud nyata kolaborasi dalam menjaga stabilitas keamanan wilayah. Kehadiran aparat di tengah masyarakat diharapkan mampu mencegah munculnya tindak kriminalitas maupun gangguan ketertiban lainnya, sekaligus mempererat hubungan antara aparat dan warga.

Danramil 02/Pondok Gede, Mayor Inf Fajar Fitrianto, menyampaikan bahwa patroli bersama akan terus dilaksanakan secara rutin sebagai upaya menciptakan situasi wilayah yang aman dan kondusif.

“Patroli ini merupakan bentuk komitmen kami dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat. Melalui sinergi bersama Satpol PP dan Linmas, kami berharap potensi gangguan Kamtibmas dapat dicegah sejak dini. Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus berperan aktif menjaga keamanan lingkungan karena keamanan merupakan tanggung jawab bersama,” ujar Mayor Inf Fajar Fitrianto.

(Kodim 0507/Bekasi)

19 Juni 2026

Di Tengah Sengketa Lahan Kasawari, Ahli Waris Minta Pemerintah Telusuri Riwayat Penerbitan SHGB PT AMI


REFORMASI-ID | BITUNG — Polemik sengketa lahan antara ahli waris petani penggarap di Kasawari dan klaim aset atas nama PT Awani Modern Indonesia (PT AMI) semakin menguat. Setelah mencabut plang yang dipasang oleh KPKNL pada 18 Juni 2026, masyarakat kini mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) serta jajaran ATR/BPN untuk melakukan audit menyeluruh terhadap riwayat penerbitan Hak Pakai hingga perubahan menjadi Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) Nomor 1 atas nama PT AMI di wilayah Makawidey.

Ahli waris menilai terdapat sejumlah kejanggalan yang perlu dibuka secara terang dan profesional, terutama menyangkut proses lahirnya Hak Pakai yang kemudian ditingkatkan menjadi SHGB. Mereka menduga terdapat ketidaksesuaian data, objek tanah, riwayat penguasaan fisik, maupun dokumen yang menjadi dasar penerbitan hak tersebut.

Menurut ahli waris, tanah yang selama ini mereka kuasai dan garap secara turun-temurun sejak tahun 1936 memiliki riwayat yang jelas dan didukung dokumen seperti surat ukur, peta bidang, Surat Pernyataan Penguasaan Tanah (SPPT), keterangan saksi sejarah, serta dokumen administrasi yang tersimpan dalam warkah Kelurahan Kasawari.

"Jangan sampai ada hak atas tanah yang lahir dari data yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Apabila terdapat dugaan manipulasi, rekayasa data, atau pelanggaran prosedur dalam penerbitan Hak Pakai maupun SHGB Nomor 1 PT AMI Makawidey, maka hal itu harus diungkap secara terbuka melalui audit dan proses hukum yang objektif," tegas perwakilan ahli waris.

Masyarakat meminta Kementerian ATR/BPN RI, Kantor Wilayah ATR/BPN Provinsi Sulawesi Utara, dan Kantor Pertanahan Kota Bitung melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh dokumen dasar penerbitan Hak Pakai dan SHGB Nomor 1 PT AMI Makawidey, mulai dari permohonan hak, data yuridis dan fisik, proses pengukuran, penetapan batas, riwayat perubahan hak, hingga pihak-pihak yang terlibat dalam proses penerbitannya.

Selain itu, masyarakat juga meminta Aparat Penegak Hukum untuk melakukan pendalaman apabila ditemukan indikasi adanya pelanggaran hukum dalam proses penerbitan dokumen pertanahan tersebut.

Bagi ahli waris petani penggarap, persoalan ini bukan hanya mengenai sengketa kepemilikan tanah, tetapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap tertib administrasi pertanahan dan kepastian hukum. Mereka menegaskan bahwa apabila seluruh proses penerbitan Hak Pakai dan SHGB Nomor 1 PT AMI Makawidey dilakukan sesuai aturan, maka hasil audit harus disampaikan secara terbuka kepada publik. Namun apabila ditemukan adanya penyimpangan, maka pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak ATR/BPN maupun pihak yang terkait dengan penerbitan Hak Pakai dan SHGB Nomor 1 PT AMI Makawidey belum memberikan tanggapan resmi atas desakan audit yang disampaikan ahli waris dan masyarakat.


27 Mei 2026

Majelis Ta’lim I’badurrahman Wangurer Barat Bangun Solidaritas Lewat Penyembelihan dan Penyaluran Kurban


REFORMASI-ID🇮🇩 | BITUNG — Suasana Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid I’Badurrahman, Wangurer Barat, Kecamatan Madidir, Kota Bitung, tak hanya dipenuhi gema takbir dan lantunan doa. Di balik prosesi penyembelihan hewan kurban, terselip pesan kuat tentang solidaritas sosial, pemerataan rezeki, dan semangat gotong royong umat.

Usai pelaksanaan Salat Idul Adha, Rabu, 27 Mei 2026, panitia kurban Masjid I’Badurrahman melanjutkan penyembelihan hewan kurban di Lapangan Futsal Wangi, Girian Indah. Lokasi itu dipilih karena dinilai representatif dan memadai untuk proses penyembelihan serta distribusi daging kurban kepada masyarakat.


Menariknya, lapangan tersebut merupakan milik Ketua Panitia Kurban, Ibu Niza Sumaila, yang turut memberikan fasilitasnya demi kelancaran kegiatan sosial keagamaan tersebut.

Tahun ini, panitia menyembelih dua ekor sapi dan satu ekor kambing yang berasal dari kelompok Majelis Ta’lim I’Badurrahman serta kelompok bapak-bapak jamaah masjid. Dari hewan kurban tersebut, panitia memperkirakan sedikitnya 120 kepala keluarga menerima manfaat pembagian daging kurban.


Sekretaris BTM I’Badurrahman, Jufrianto Tamara, mengatakan pelaksanaan kurban bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sarana memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

“Yang terpenting dalam kurban bukan besar kecilnya nilai yang diberikan, tetapi niat dan keikhlasan untuk berbagi. Kurban bukan hanya untuk orang kaya. Siapa pun bisa ikut mengambil pahala kurban dengan berpartisipasi sesuai kemampuan,” ujar Jufrianto di sela kegiatan penyembelihan.

Ia menegaskan, konsep gotong royong dalam pelaksanaan kurban menjadi bentuk pendidikan sosial yang terus dijaga di lingkungan jamaah Masjid I’Badurrahman.

“Kalau tahun ini masih menjadi penerima manfaat, mudah-mudahan tahun depan bisa menjadi orang yang ikut berkurban. Itu harapan kami,” katanya.

Dalam tausiyah Idul Adha, khatib Ustaz Abdurrahman Takapaha Sidiki menyampaikan bahwa ibadah kurban memiliki dimensi sosial yang jauh lebih besar dibanding sekadar penyembelihan hewan.

“Kurban adalah jembatan kemanusiaan yang meruntuhkan sekat antara si kaya dan si miskin. Yang dikorbankan bukan hanya hewan, tetapi juga ego kepemilikan dan sikap masa bodoh terhadap penderitaan sesama,” ujarnya di hadapan jamaah.


Pesan serupa juga disampaikan Jufrianto Tamara yang mengutip sabda Rasulullah SAW tentang besarnya pahala orang yang berkurban pada Hari Nahar, 10 Dzulhijjah.

Menurut dia, ibadah kurban merupakan amalan umum yang dapat diikuti seluruh umat Islam, tidak terbatas hanya bagi kalangan mampu seperti ibadah haji.

“Partisipasi sekecil apa pun, kalau diniatkan untuk berkurban, insyaallah mendapat pahala. Karena yang dinilai bukan semata jumlahnya, tetapi keikhlasan dan niat berbagi kepada sesama,” katanya.

Pelaksanaan kurban tahun ini melibatkan kepanitiaan dan kelompok peserta kurban dari berbagai unsur jamaah. Ketua Panitia Kurban dipercayakan kepada Ibu Niza Sumaila, sementara Sekretaris BTM I’Badurrahman dijabat Jufrianto Tamara.


Kelompok kurban Majelis Ta’lim I’Badurrahman terdiri atas Niza Sumaila, Roslin Rahim, Fanda Sarfan, Nuraji Pakaya, Rosmawati Kaida, Asni Lawani, dan Ewan Abdjul. Sedangkan kelompok bapak-bapak terdiri dari Lestari Adam, Eko Santoso, Jufrianto Tamara, Abdul Azis Sidiki, Noval Katili, Yanto Sarfan, dan Arifin Galensye.

Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, pembagian daging kurban menjadi simbol bahwa nilai berbagi belum sepenuhnya hilang di tengah kehidupan perkotaan. Dari halaman masjid hingga lapangan futsal sederhana di Girian Indah, semangat kurban kembali mengingatkan bahwa solidaritas sosial tetap menjadi fondasi utama kehidupan bermasyarakat.

22 Mei 2026

Gabungan Awak Media Independen Desak Dewan Pers Bertindak Tegas terhadap Oknum Wartawan Penyebar Hoaks dan Pemerasan



REFORMASI-ID | BITUNG — Gelombang keprihatinan terhadap maraknya penyalahgunaan profesi jurnalistik kian menguat di Kota Bitung. Sejumlah awak media independen mendesak Dewan Pers agar lebih proaktif menerima dan menindaklanjuti aduan terkait pemberitaan yang dinilai tidak memenuhi kaidah jurnalistik, tidak melalui proses klarifikasi, hingga mengarah pada pembentukan opini sepihak dan dugaan penyebaran hoaks.

Desakan itu mencuat menyusul rangkaian pemberitaan dugaan isu SARA yang menyeret nama Komandan Satrol Kodaeral VIII, Marvill Marfel Frits. Awak media independen menilai pemberitaan tersebut telah berulang kali dimuat tanpa proses konfirmasi langsung kepada pihak yang diberitakan, padahal klarifikasi resmi sudah disampaikan secara terbuka.

Sorotan tajam diarahkan kepada tiga media online, yakni PeloporBerita.Id oleh saudari Nina Rumondor yang diketahui merupakan salah satu anggota Persatuan Wartawan Indonesia Sulawesi Utara, kemudian Tipikor Investigasi News.Id oleh saudara Welly Mamonto, serta Starbucks.News.Id oleh saudara John Sela.

Gabungan awak media independen menilai ketiga oknum media online tersebut telah melakukan pemberitaan secara sepihak tanpa klarifikasi berimbang. Padahal, menurut mereka, Dansatrol Kodaeral VIII Marvill Marfel Frits telah berulang kali memberikan penjelasan terbuka terkait isu yang berkembang, termasuk di hadapan tokoh masyarakat, organisasi kerukunan Jawa, hingga sejumlah insan pers di Sulawesi Utara.

“Yang menjadi pertanyaan besar, apa sebenarnya motif di balik pemberitaan sepihak yang terus diulang ini, padahal klarifikasi sudah disampaikan secara terbuka? Kalau berita terus diproduksi tanpa konfirmasi dan tanpa verifikasi, maka patut dipertanyakan tujuan sebenarnya,” ujar salah satu jurnalis independen di Bitung.

Menurut mereka, tindakan semacam itu bukan hanya melanggar prinsip cover both sides, tetapi juga berpotensi memperkeruh situasi sosial di tengah upaya menjaga kerukunan masyarakat Kota Bitung yang selama ini dikenal sebagai daerah plural dan penuh toleransi.

Fenomena media online yang tumbuh tanpa disiplin verifikasi kini dinilai semakin mengkhawatirkan. Status wartawan dan kepemilikan kartu pers disebut kerap dijadikan tameng oleh sebagian oknum untuk menggiring opini, melakukan tekanan terhadap narasumber, bahkan diduga terlibat praktik backing bisnis ilegal dan pemerasan berkedok kontrol sosial.

“Kalau profesi wartawan dipakai untuk membangun framing tanpa fakta dan tanpa keberimbangan, maka itu bukan lagi kerja jurnalistik yang sehat. Ini justru mencederai independensi pers dan merusak kepercayaan publik terhadap media,” kata salah satu wartawan senior.

Gabungan awak media independen meminta Dewan Pers tidak tinggal diam terhadap praktik-praktik seperti itu. Mereka mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap media maupun oknum wartawan yang terbukti berulang kali melanggar kode etik jurnalistik.

Tidak hanya sebatas teguran, mereka juga meminta adanya rekomendasi pencabutan kartu tanda anggota (KTA) pers, peninjauan legalitas media, hingga pemberian sanksi tegas terhadap media yang dinilai menyalahgunakan fungsi pers.

“Pers diberikan kebebasan oleh undang-undang, tetapi kebebasan itu memiliki batas etik dan tanggung jawab hukum. Jangan sampai ada oknum yang berlindung di balik profesi wartawan untuk membentuk opini sepihak atau mencari kepentingan tertentu,” tegas mereka.

Kasus ini kini dinilai menjadi ujian serius bagi dunia pers lokal: apakah profesi jurnalistik tetap dijaga sebagai instrumen demokrasi yang bertanggung jawab, atau justru dibiarkan dipakai oleh oknum tertentu untuk memainkan narasi tanpa verifikasi dan tanpa keberimbangan fakta.

21 Mei 2026

Kapolres Albert Zai Sandang Gelar Adat “Tonaas Tonsea Waraney Gumigiroth”

 


REFORMASI-ID | BITUNG — Kapolres Bitung Albert Zai resmi dikukuhkan sebagai tokoh adat Minahasa dengan gelar “Tonaas Tonsea Waraney Gumigiroth” dalam rangkaian kegiatan Parade Adat Nusantara memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Kota Bitung, Rabu, 20 Mei 2026.

Penganugerahan gelar adat tersebut diberikan oleh Majelis Adat Budaya Tonsea Minahasa bersama Angkatan Muda MABTM sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan kontribusi Kapolres dalam menjaga keamanan serta merawat hubungan sosial masyarakat di Kota Bitung.


Selain Kapolres Bitung, gelar adat juga diberikan kepada Wali Kota Hengky Honandar, Wakil Wali Kota Randito Maringka, Dansatrol Kodaeral VIII Bitung Kolonel (P) Marvill Marfel Frits, serta Dandim 1310 Bitung Letkol Infanteri Dewa Made D. J..

Usai menerima gelar adat, Albert Zai menyampaikan rasa hormat dan apresiasi kepada masyarakat adat Tonsea Minahasa yang telah menerima dirinya sebagai bagian dari keluarga besar adat Minahasa.

“Saya dan keluarga tentu merasa bangga. Ini merupakan penghormatan sekaligus amanah yang harus saya jaga,” kata Albert.

Menurut dia, gelar “Tonaas Tonsea Waraney Gumigiroth” bukan sekadar simbol adat, melainkan tanggung jawab moral untuk terus menjaga persaudaraan, keamanan, dan ketertiban masyarakat di Kota Bitung.

Perwira polisi asal Nias itu juga mengajak seluruh masyarakat menjaga kebersamaan di tengah keberagaman suku, agama dan budaya yang hidup di Kota Bitung.

“Mari kita sama-sama menjaga Banua kita, tempat kita tinggal dan mencari kehidupan. Kalau daerah ini aman dan kondusif, maka masyarakat bisa hidup tenang, ekonomi berjalan baik, dan persaudaraan tetap terjaga,” ujarnya.

Pengukuhan tokoh-tokoh daerah dalam forum adat tersebut menjadi simbol kuat keterbukaan masyarakat adat Minahasa terhadap nilai persatuan lintas etnis. Momentum Hari Kebangkitan Nasional pun dimaknai tidak hanya sebagai peringatan sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga penguatan solidaritas sosial di tengah masyarakat majemuk Kota Bitung.

17 Mei 2026

MUSKOT SENKOM MANADO: Regenerasi Kepemimpinan Didorong Perkuat Sinergi Keamanan dan Respons Bencana




REFORMASI-ID | MANADO — Regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi kemasyarakatan mitra keamanan kembali berlangsung di Kota Manado. Musyawarah Kota (Muskot) Senkom Mitra Polri Kota Manado menetapkan kepengurusan baru periode 2026–2031 dengan agenda utama memperkuat kapasitas anggota, sinergi lintas sektor, serta adaptasi teknologi komunikasi dalam mendukung stabilitas keamanan dan pelayanan kemanusiaan.

Kegiatan yang dihadiri jajaran pengurus provinsi, pembina organisasi, hingga anggota Senkom tersebut berlangsung dalam suasana konsolidatif. Pergantian kepemimpinan dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat peran organisasi di tengah tantangan sosial dan dinamika keamanan yang terus berkembang.

Ketua Senkom Mitra Polri Provinsi Sulawesi Utara M. Amin Muslim, S. Kom, dalam sambutannya menegaskan bahwa kepemimpinan baru memikul tanggung jawab besar, bukan sekadar menjalankan roda organisasi secara administratif.

“Amanah ini bukan sekadar jabatan, tetapi merupakan tanggung jawab besar untuk menjaga soliditas organisasi, meningkatkan pengabdian kepada masyarakat, serta memperkuat sinergitas dengan aparat keamanan dan pemerintah daerah,” ujarnya.

Ia berharap kepengurusan baru mampu menghadirkan semangat dan pola kerja yang lebih progresif, terutama dalam membangun koordinasi dengan kepolisian, pemerintah daerah, hingga unsur kebencanaan dan sosial kemasyarakatan.

Menurutnya, keberadaan Senkom Mitra Polri harus tetap relevan sebagai organisasi yang bergerak cepat membantu masyarakat, baik dalam situasi keamanan maupun kondisi darurat.

“Organisasi ini harus terus hadir sebagai mitra strategis dalam membantu menjaga keamanan, ketertiban masyarakat, penanggulangan bencana, serta kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya,” katanya.

Di sisi lain, Ketua Senkom Mitra Polri Kota Manado  terpilih menegaskan kepemimpinan yang diembannya bukan bentuk kehormatan simbolik, melainkan mandat organisasi yang harus dijalankan secara kolektif bersama seluruh anggota.

“Jabatan ini bukanlah sebuah hadiah, melainkan sebuah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada organisasi, masyarakat, maupun di hadapan Tuhan,” ujarnya di hadapan peserta Muskot.

Dalam pidato perdananya, ia memaparkan tiga fokus utama kepengurusan baru. Pertama, peningkatan kapasitas anggota melalui pelatihan komunikasi, keamanan lingkungan, dan kesiapsiagaan SAR. Kedua, memperkuat kemitraan strategis dengan POLRI, TNI, BNPB, serta instansi terkait lainnya. Ketiga, optimalisasi teknologi komunikasi digital untuk mempercepat penyampaian informasi dan koordinasi lapangan.

Ia juga menekankan pentingnya soliditas internal organisasi di tengah meningkatnya tantangan sosial dan kebutuhan respons cepat terhadap persoalan masyarakat.

“Sebuah organisasi tidak akan pernah besar karena satu orang ketua, melainkan karena kerja keras, soliditas, dan loyalitas dari seluruh anggotanya,” katanya.

Pergantian kepemimpinan itu sekaligus menjadi ruang evaluasi terhadap peran organisasi masyarakat berbasis kemitraan keamanan di daerah. Di tengah meningkatnya kebutuhan kolaborasi sipil dan aparat, Senkom dinilai dituntut lebih profesional, terukur, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi serta dinamika sosial perkotaan.

Muskot tersebut juga diwarnai penyampaian penghargaan kepada pengurus sebelumnya atas kontribusi dan pengabdian mereka selama masa kepemimpinan. Pengurus provinsi berharap estafet organisasi tidak berhenti pada seremonial pergantian ketua, melainkan melahirkan konsolidasi yang lebih kuat hingga tingkat anggota di lapangan.

Jejak “Pesta Babi” di Bitung: Dugaan Perampasan Tanah Garapan Berkedok Pembangunan

 



OPINI | BITUNG — Konflik agraria di Tokambahu, Makawidey, dan Kasawari perlahan membuka pertanyaan paling mendasar dalam republik ini: negara sebenarnya hadir untuk melindungi rakyat atau justru datang paling akhir untuk mengambil ruang hidup mereka?

Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan.

Selama puluhan tahun, masyarakat keturunan ahli waris penggarap hidup di atas lahan yang dahulu hanyalah hutan belantara. Tidak ada jalan. Tidak ada investasi. Tidak ada korporasi. Tidak ada alat berat. Negara pun nyaris tak terlihat.

Tanah itu dibuka dengan parang dan cangkul. Kelapa ditanam satu per satu. Pisang, umbi-umbian, dan tanaman pangan tumbuh dari keringat rakyat kecil yang hidup bergenerasi di sana bahkan sebelum republik ini berdiri.

Namun sejarah republik sering kali aneh.

Ketika tanah masih hutan, rakyat dibiarkan sendiri.

Tetapi ketika tanah mulai memiliki nilai ekonomi, tiba-tiba muncul banyak pihak membawa peta, dokumen, stempel, bahkan nama institusi negara.

Inilah pola klasik konflik agraria Indonesia: rakyat membuka tanah, korporasi datang mengambil legalitasnya, lalu negara muncul menjaga administrasinya.

Pola semacam itu sesungguhnya bukan cerita baru di Indonesia. Film dokumenter Pesta Babi pernah memperlihatkan bagaimana pembangunan di Papua kerap menghadirkan luka sosial di tengah masyarakat adat. Dalam film itu, pembangunan datang dengan bahasa kemajuan dan investasi, tetapi di saat yang sama menghadirkan rasa kehilangan atas tanah, hutan, dan ruang hidup masyarakat lokal.

Papua dalam film tersebut digambarkan bukan sekadar kehilangan tanah, tetapi kehilangan kendali atas masa depannya sendiri. Tanah adat berubah menjadi angka investasi. Ruang hidup berubah menjadi konsesi. Dan masyarakat perlahan terdorong menjadi penonton di tanah leluhurnya sendiri.

Kini, kegelisahan serupa mulai dirasakan masyarakat Tokambahu, Makawidey, dan Kasawari di Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Apa yang selama ini terlihat jauh di Papua, menurut warga, ternyata juga bisa terjadi di daerah mereka sendiri.

Bedanya hanya lokasi.

Polanya terasa mirip:

tanah rakyat mulai bernilai ekonomi,

korporasi masuk membawa legalitas,

lalu muncul klaim atas nama negara,

sementara masyarakat yang sejak awal membuka lahan justru diposisikan seolah penghalang pembangunan.

Di situlah masyarakat mulai merasa bahwa “Pesta Babi” bukan hanya cerita tentang Papua, melainkan potret wajah pembangunan Indonesia yang sering berulang di banyak daerah.

Pembangunan yang kerap lupa bertanya: siapa yang pertama hidup di atas tanah itu?

Pada 1995, masyarakat menyebut masuknya korporasi PT Awani Modern menjadi titik awal perubahan besar di wilayah tersebut. Dengan label Hak Pakai, perusahaan mulai masuk ke wilayah garapan rakyat. Setahun kemudian statusnya berubah menjadi Hak Guna Bangunan (HGB).

Di sinilah letak pertanyaan serius yang seharusnya diuji secara terbuka oleh negara.

Untuk apa sebenarnya HGB itu diberikan?

Sebab dalam praktiknya, menurut pengakuan warga, tidak pernah ada pembangunan signifikan sebagaimana semangat pemberian HGB dalam Undang-Undang Pokok Agraria. Yang terjadi justru penguasaan hasil kebun kelapa masyarakat penggarap.

Jika benar demikian, maka negara perlu menjelaskan: apakah fungsi sosial tanah sebagaimana amanat UUPA benar-benar dijalankan, atau hukum agraria hanya menjadi alat legalisasi penguasaan ruang hidup rakyat?

Masalah semakin pelik ketika HGB tersebut disebut berakhir pada September 2024. Dalam logika hukum pertanahan, tanah HGB yang habis masa berlakunya semestinya kembali menjadi tanah negara sebelum ada proses lanjutan sesuai mekanisme hukum.

Tetapi ironisnya, di tengah kekosongan dan sengketa status itu, muncul klaim baru yang menyebut tanah tersebut sebagai “tanah negara” karena diduga dijaminkan kepada negara.

Pertanyaannya sederhana:

di mana dokumen otentiknya?

mana bukti kredit macetnya?

mana keputusan hukum tetapnya?

mana keterbukaan administrasi publiknya?

Dan yang lebih mengkhawatirkan, mengapa justru muncul pendekatan-pendekatan intimidatif di lapangan dengan membawa nama institusi negara sebelum ada penyelesaian hukum yang terang?

Dalam negara demokrasi, penggunaan nama aparat tanpa dasar hukum yang jelas adalah persoalan serius. Sebab negara hukum tidak bekerja berdasarkan telepon misterius, tekanan psikologis, atau klaim sepihak.

Negara hukum bekerja melalui:

dokumen,

prosedur,

transparansi,

dan akuntabilitas.

Jika ada pihak mengatasnamakan institusi tertentu untuk menghentikan aktivitas masyarakat tanpa surat resmi, tanpa penjelasan terbuka, lalu menghilang tanpa jejak, maka publik berhak curiga ada praktik kekuasaan informal yang sedang bermain di balik konflik agraria ini.

Fenomena semacam ini berbahaya.

Karena republik yang sehat tidak boleh memberi ruang bagi praktik kekuasaan bayangan — kekuasaan tanpa identitas, tanpa tanggung jawab, tetapi memiliki daya tekan terhadap rakyat kecil.

Dalam forum mediasi yang digelar di Kantor Kelurahan Kasawari, pemerintah setempat mencoba mengambil posisi sebagai penengah. Lurah Kasawari meminta seluruh pihak menahan diri dan mengedepankan dialog dibanding pendekatan tekanan di lapangan.

“Kami berharap semua pihak bisa duduk bersama mencari solusi yang baik. Pemerintah kelurahan tidak ingin ada konflik berkepanjangan. Persoalan ini harus dibuka secara terang dan diselesaikan lewat musyawarah serta mekanisme hukum yang benar,” ujar Lurah Kasawari dalam forum mediasi.

Hal senada disampaikan Babinsa yang hadir dalam pertemuan tersebut. Ia menegaskan pentingnya menjaga stabilitas keamanan dan menghindari tindakan sepihak yang dapat memicu ketegangan di tengah masyarakat.

“Kami berharap masyarakat tetap tenang dan semua pihak mengedepankan komunikasi. Jangan sampai ada gesekan karena persoalan ini masih perlu dibicarakan bersama melalui jalur yang benar,” ujar Babinsa di hadapan warga.

Namun bagi masyarakat keturunan ahli waris penggarap, konflik ini bukan sekadar perkara administrasi tanah. Di balik peta dan dokumen, ada sejarah panjang keluarga yang hidup dari tanah tersebut sejak era sebelum kemerdekaan.

Salah satu ahli waris petani penggarap menuturkan, lahan Tokambahu telah digarap oleh opa dan oma mereka sejak sekitar tahun 1936, jauh sebelum korporasi maupun negara hadir membawa klaim kepemilikan.

“Ini bukan tanah kosong yang baru muncul kemarin. Opa-oma torang so buka ini hutan dari tahun 1936. Dorang kerja dengan parang, cangkul, dan tangan sendiri. Dulu waktu masih hutan belantara, nda ada negara datang bantu bersihkan, nda ada perusahaan datang garap. Tapi pas tanah so ada nilai ekonomi, baru banyak yang datang klaim,” ujarnya.

Ia mengatakan masyarakat tidak menolak negara, tetapi meminta negara hadir secara adil dan tidak menghapus sejarah hidup rakyat kecil hanya karena kekuatan dokumen formal yang masih dipersoalkan keabsahannya.

“Torang takut jangan sampai apa yang terjadi di Papua, yang torang lihat dalam film Pesta Babi, pelan-pelan terjadi juga di tanah torang di Makawidey dan Kasawari. Pembangunan jangan datang lalu rakyat kecil dikorbankan. Jangan sampai petani penggarap cuma jadi penonton di tanah sendiri,” katanya.

Karena itu, permintaan masyarakat Tokambahu agar persoalan ini dibuka melalui RDP DPRD dan audit legalitas menyeluruh sesungguhnya bukan tindakan melawan negara. Justru itu bentuk kepercayaan terakhir rakyat terhadap mekanisme konstitusional.

Mereka tidak meminta kekuasaan.

Mereka meminta kejelasan.

Mereka meminta negara membuktikan bahwa hukum masih bekerja untuk rakyat kecil, bukan hanya untuk mereka yang memiliki akses terhadap meja-meja kekuasaan.

Sebab sejarah Indonesia terlalu penuh dengan kisah rakyat yang dikalahkan bukan oleh hukum, melainkan oleh tafsir kekuasaan atas hukum.

Dan ketika negara mulai lebih sibuk menjaga dokumen korporasi dibanding melindungi sejarah hidup rakyatnya sendiri, di situlah republik perlahan kehilangan legitimasi moralnya.

15 Mei 2026

Dansatrol Kodaeral VIII Marvill Marfel Frits Dukung Pelestarian Budaya Pesisir Lewat Festival "Lembut Badaseng"


REFORMASI-ID | BITUNG — Komitmen menjaga dan melestarikan budaya pesisir terus diperkuat jajaran Satrol Kodaeral VIII melalui keterlibatan aktif dalam Festival Budaya “Lembut Badaseng” yang digelar di Kelurahan Binuang, Kecamatan Lembeh Utara, Kota Bitung, Jumat (15/5).

Dankodaeral VIII, Laksamana Muda TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., M.Tr., Opsla. diwakili Komandan Satrol Kodaeral VIII, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits E.D., S.E., M.Tr., Hanla., CRMP., hadir dalam Kegiatan budaya masyarakat pesisir tersebut. 


Festival “Lembut Badaseng” menjadi ruang pelestarian budaya lokal pesisir sekaligus momentum memperkuat persaudaraan, kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat maritim di wilayah kepulauan.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, masyarakat bersama unsur TNI Angkatan Laut menampilkan berbagai tradisi budaya lokal yang sarat nilai kearifan pesisir dan semangat persatuan.

Komandan Satrol Kodaeral VIII melalui keterangannya menyampaikan apresiasi atas antusiasme masyarakat dalam menjaga tradisi budaya yang menjadi identitas masyarakat pesisir Kota Bitung.

“Kegiatan budaya seperti ini bukan hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga mempererat hubungan harmonis antara prajurit TNI Angkatan Laut dengan masyarakat pesisir,” ujarnya.


Menurutnya, budaya bahari merupakan bagian penting dari identitas bangsa maritim yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda di tengah perkembangan zaman.

Kehadiran jajaran Satrol Kodaeral VIII dalam festival tersebut juga menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan ketahanan sosial masyarakat pesisir melalui pendekatan budaya dan kebersamaan.

Festival berlangsung meriah dengan partisipasi tokoh masyarakat, pemuda, pelaku seni budaya hingga warga pesisir dari sejumlah wilayah di Kota Bitung.

Melalui kegiatan itu, semangat kecintaan terhadap budaya bahari dan persatuan maritim diharapkan terus tumbuh sebagai kekuatan sosial masyarakat pesisir sekaligus memperkokoh jati diri Indonesia sebagai bangsa maritim.

20 Maret 2026

Patroli Malam, Koramil 04/Jati Asih Intensifkan Pemantauan Pemukiman Ditinggal Mudik


REFORMASI-ID - Kodam Jaya - Kota Bekasi - 19/03/2026 -  Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat menjelang dan selama Hari Raya Idul Fitri, personel Koramil 04/Jati Asih melaksanakan patroli malam dengan menyasar pemukiman warga yang ditinggalkan mudik oleh penghuninya.

Patroli dilakukan dengan berkeliling ke sejumlah komplek perumahan di wilayah binaan guna mengantisipasi potensi tindak kejahatan seperti pencurian rumah kosong. Selain itu, personel juga memberikan imbauan kepada warga yang masih berada di tempat untuk turut serta menjaga lingkungan serta meningkatkan kewaspadaan.

Kegiatan patroli ini merupakan bentuk kehadiran TNI di tengah masyarakat dalam memberikan rasa aman dan nyaman, khususnya saat banyak warga meninggalkan rumah untuk merayakan Hari Raya di kampung halaman.

Danramil 04/Jati Asih Mayor Inf Sanusi Deski menyampaikan bahwa patroli akan terus dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan.

“Patroli malam ini kami fokuskan pada pemukiman yang ditinggal mudik guna memastikan situasi tetap aman dan kondusif. Kami juga mengimbau kepada warga agar memastikan rumah dalam keadaan terkunci dengan baik serta berkoordinasi dengan pihak keamanan setempat sebelum meninggalkan rumah.

Dengan adanya patroli ini, diharapkan dapat meminimalisir potensi gangguan kamtibmas serta memberikan rasa tenang bagi masyarakat yang sedang menjalankan mudik Lebaran.

(Kodim 0507/Bekasi)





12 Maret 2026

Koramil 02/Pondok Gede dan Polsek Pondok Gede Amankan Wilayah Demi Kamtibmas di Bulan Ramadhan


 REFORMASI-ID | Kodam Jaya - Kota Bekasi  - 12/03/2026. Guna menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat selama bulan suci Ramadhan, personel Koramil 02/Pondok Gede bersama Polsek Pondok Gede melaksanakan patroli sinergitas di sejumlah titik wilayah yang dianggap rawan terjadinya gangguan kamtibmas.

Kegiatan patroli diawali dengan apel gabungan untuk mengecek kesiapan personel sebelum melaksanakan patroli dengan menggunakan kendaraan dinas serta patroli dialogis menyusuri wilayah pemukiman warga, tempat berkumpulnya masyarakat, hingga titik-titik yang dinilai rawan terhadap potensi gangguan keamanan.

Dalam patroli tersebut, personel TNI dan Polri juga memberikan himbauan secara humanis kepada masyarakat, khususnya para remaja, agar tidak melakukan kegiatan yang dapat mengganggu ketertiban umum seperti balap liar, perang sarung maupun aktivitas lain yang berpotensi menimbulkan keributan selama bulan Ramadhan.

Danramil 02/Pondok Gede Mayor Inf Fajar Fitrianto menyampaikan bahwa kegiatan patroli sinergitas ini merupakan bentuk nyata kerja sama dan komitmen TNI-Polri dalam menjaga kondusifitas wilayah, terlebih di bulan suci Ramadhan yang identik dengan meningkatnya aktivitas masyarakat pada malam hari.

“Melalui patroli gabungan ini kami ingin memastikan situasi wilayah tetap aman dan kondusif, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan tenang dan nyaman. Kami juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan lingkungan serta menghindari kegiatan yang dapat mengganggu ketertiban umum,” ujar Mayor Inf Fajar Fitrianto.

Ia juga menambahkan bahwa sinergitas antara TNI dan Polri akan terus diperkuat sebagai langkah preventif guna meminimalisir potensi gangguan keamanan di wilayah Pondok Gede.

Dengan adanya patroli rutin ini diharapkan situasi keamanan di wilayah Pondok Gede tetap terjaga dengan baik sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas dan ibadah di bulan Ramadhan dengan aman dan khusyuk.

(Sumber Kodim 0507/Bekasi)









28 Februari 2026

Polres Metro Bekasi Kota dan Ojol Buka Puasa Bersama, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas


REFORMASI - ID - KOTA BEKASI  -  Kepolisian Resort Metro Bekasi Kota menggelar kegiatan buka puasa bersama komunitas "Ojol Jaga Bekasi" di Masjid Al-Mukmin Mapolres Metro Bekasi Kota, Jumat (27/2/2026). Acara ini menjadi momentum penguatan sinergi antara aparat penegak hukum dengan para pengenudi ojeg online dalam menjaga kondusifitas wilayah.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Wakapolres Metro Bekasi Kota, AKBP Davis Busin Siswara, S.I.K., M.I.Kom, Ketua Ojol Jaga Bekasi Bapak Sarjono Adi Saputro, serta perwakilan pengemudi ojek online dari seluruh wilayah Polsek jajaran.

Dalam sambutannya mewakili Kapolres, AKBP Davis Busin Siswara menekankan pentingnya keamanan sebagai syarat kemajuan sebuah kota,

Juga tak kalah pentingnya komunitas ojol yang beroperasi 24 jam di lapangan adalah mitra kepolisian yang sangat efektif dalam mendeteksi gangguan kamtibmas sejak dini

Menjelang waktu berbuka, Wakapolres juga mengingatkan para pengemudi ojol agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi bohong (hoaks) yang dapat memecah belah masyarakat. Ia menyebutkan bahwa pelaku kerusuhan biasanya bukan warga asli yang peduli pada kotanya.

"Jangan mau diadu domba oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, momen silaturahmi ini adalah cara kita menangkal hoaks," tegasnya.

"kalau kita kuat menjaga Bekasi, potensi kejahatan akan bisa ditekan dan kota Bekasi akan Aman "jelasnya.

Polres Metro Bekasi Kota mengajak para ojol untuk memanfaatkan layanan panggilan darurat 110 untuk melaporkan temuan mencurigakan di jalan. Dengan jaringan ojol yang luas, kepolisian optimis antisipasi tawuran dan kejahatan jalanan akan lebih maksimal.

Acara dilanjutkan dengan tausiyah oleh Iptu H. Bonin yang menekankan esensi puasa untuk membentuk pribadi bertaqwa, kemudian berbuka puasa bersama.

Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Pol. Kusumo Wahyu Bintoro, S.H., S.I.K., M.H., turut hadir dan bergabung bersama para anggota ojol dalam melaksanakan shalat Maghrib berjamaah, menutup rangkaian acara dengan suasana penuh kekeluargaan dan harmoni.


Program "Bang Jasri": Kapolsek Medan Satria Pimpin Aksi Bersih-Bersih Masjid Al Furqon Pejuang


REFORMASI-ID 🇮🇩 Kota Bekasi – Jajaran Polsek Medan Satria terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang asri dan nyaman bagi warga selama bulan suci Ramadhan. Melalui program unggulan Bang Jasri (Bhayangkara Jakarta Asri), personel kepolisian menggelar aksi kerja bakti atau kurve di Masjid Al Furqon, Kelurahan Pejuang, Jumat (27/2/2026) sore.

Kegiatan ini menyasar kebersihan area dalam dan luar masjid guna memastikan kenyamanan jemaah yang akan melaksanakan ibadah shalat tarawih maupun kegiatan keagamaan lainnya.

Kapolsek Medan Satria, Kompol Rusit Malaka, S.H., M.H., memimpin langsung jalannya kegiatan ini dengan didampingi Wakapolsek AKP Sumarjono dan Kanit Binmas Iptu Endang Dahyudi. Hadir pula Bhabinkamtibmas Kelurahan Pejuang, Aiptu Slamet SA dan Bripka Dwi Feriyanto, yang bahu-membahu bersama pengurus masjid.

"Program Bang Jasri ini bukan sekadar semboyan, tapi aksi nyata. Hari ini kami memfokuskan pada kebersihan Masjid Al Furqon di Perum Bulevard. Kami ingin masyarakat merasa nyaman dan khusyuk saat beribadah karena lingkungannya bersih dan asri," ujar Kompol Rusit Malaka di sela-sela kegiatan.

Aksi bersih-bersih ini disambut hangat oleh Ketua DKM Masjid Al Furqon, Bapak H. Zulkarnain. Pihak DKM mengapresiasi inisiatif kepolisian yang tidak hanya menjaga keamanan wilayah, tetapi juga peduli terhadap kebersihan tempat ibadah.

Personel kepolisian tampak membersihkan lantai masjid, area wudhu, hingga halaman luar masjid. Sinergi antara aparat dan pengurus masjid ini menciptakan suasana kekeluargaan yang erat di tengah lingkungan Perum Bulevard 

Kapolsek Medan Satria menegaskan bahwa kegiatan kurve ini akan terus dilaksanakan secara berpindah-pindah di berbagai tempat ibadah maupun fasilitas umum di wilayah hukum Polsek Medan Satria. Hal ini sejalan dengan visi program Bang Jasri untuk menghadirkan kehadiran Polri yang membawa dampak positif langsung bagi lingkungan.

Hingga kegiatan berakhir pada sore hari, situasi di lokasi terpantau aman dan kondusif. Area Masjid Al Furqon kini tampak lebih bersih dan siap menyambut jemaah untuk ibadah malam hari.