Essai Mahar Prastowo
Malam di Pandansimping tidak pernah benar-benar gelap. Lampu-lampu SPBU itu, seperti mata yang tak mau terpejam, menatap jalan raya yang lengang dengan kesabaran yang tua. Di bawah cahaya yang kekuningan itu, sebuah mini bus Daihatsu berhenti, napas mesinnya masih hangat, seperti dada yang baru saja menahan gelisah panjang.
Jarot turun tanpa tergesa. Ia lelaki yang sudah terlalu sering berhadapan dengan kemungkinan buruk, hingga ketenangan menjadi semacam kebiasaan, bukan lagi keberanian. Tangannya merogoh saku, membayar bensin, seperti siapa saja yang singgah sekadar untuk melanjutkan perjalanan.
Namun malam itu bukan milik orang-orang biasa.
Dari arah jalan raya, kendaraan lain meluncur. Tidak cepat, tapi cukup untuk menyimpan niat. Dan niat, seperti yang kerap terjadi dalam sejarah manusia, selalu datang lebih dahulu daripada peluru.
Benturan itu singkat. Bunyi logam bertemu logam, seperti peringatan yang terlambat.
Seorang lelaki meloncat keluar. “Saya dari Polda!” serunya, tetapi suara itu lebih terdengar seperti aba-aba bagi sesuatu yang lebih tua dari hukum: naluri untuk hidup atau mati.
Dua letusan memecah malam.
Jarot tidak menunggu penjelasan. Ia berlari. Kakinya seperti tahu arah sebelum pikirannya sempat memutuskan. Ia menembus pintu timur, meninggalkan mobil, meninggalkan lima nama yang tak sempat dipanggil satu per satu: Slamet Gundul, Waluyo, Kentut, Bagyo, Sugeng.
Di dalam mobil, kepanikan berjejal seperti penumpang tanpa tiket. Pintu tak bisa dibuka. Kaca menjadi satu-satunya jalan keluar, dan dari situlah peluru-peluru mulai berbicara, saling menjawab tanpa bahasa.
Jarak sepuluh meter, kata orang. Tapi dalam jarak sedekat itu, hidup dan mati seringkali hanya dipisahkan oleh sepersekian detik dan sepotong keberuntungan.
Peluru mendenging. Udara menjadi padat oleh ketakutan.
Empat orang berhasil keluar. Waluyo dan Kentut melompat, menyeberangi tembok, seperti melompati batas nasib. Slamet dan Sugeng berlari ke jalan raya, sementara Bagyo memilih diam—merunduk, menunggu, berharap dunia berhenti sejenak.
Tapi dunia tidak pernah berhenti bagi orang-orang seperti mereka.
Petugas mendekat. Revolver kosong. Waktu terasa lebih panjang dari biasanya. Lalu bantuan datang—seperti harapan yang terlambat tapi masih sempat.
Bagyo mencoba lari. Dua peluru menghentikannya. Paha kiri dan kanan—tubuhnya seperti dipaku pada tanah yang tak pernah ia miliki.
Pertempuran bergeser. Seperti bayangan yang pindah mengikuti cahaya, tembak-menembak itu menjalar ke depan puskesmas. Jalan raya yang biasanya hanya dilewati orang pulang menjadi saksi sesuatu yang lebih tua dari peradaban: manusia memburu manusia.
Jarot, dalam kepanikannya, mencari perlindungan pada truk yang diam. Ia naik, bersembunyi, berharap mesin yang tak ia kenal bisa menyelamatkannya. Tapi mesin itu punya rahasia sendiri. Ia menolak hidup, seperti menolak terlibat dalam urusan manusia.
Seorang kernet melihat. Teriakan itu melahirkan keputusan.
Dan keputusan, sekali lagi, berakhir dengan peluru.
Jarot tewas di tempat. Namanya berhenti di sana, di antara bau bensin dan suara malam yang pecah.
Sugeng berlari ke sawah. Pematang menjadi jalur terakhir bagi orang-orang yang tak lagi punya arah. Seorang warga, Sudrisno, melihat—dan memilih. Ia mengejar. Ia tidak membawa senjata, hanya keyakinan bahwa ada yang harus dihentikan.
Sugeng dilumpuhkan. Tubuhnya jatuh bukan oleh peluru pertama, tapi oleh pukulan. Seolah hidupnya memang harus berakhir dengan cara yang lebih dekat dengan tanah.
Sementara itu, Slamet Gundul masih bertahan.
Ia tidak benar-benar gundul, kata orang. Tapi keberaniannya telanjang—tanpa sisa. Ia menembak dan ditembak, jarak begitu dekat hingga napas bisa saling terasa. Peluru menembus lengan petugas, lalu pahanya sendiri. Namun ia tetap memilih lari.
Ke utara. Ke desa. Ke gelap yang lebih dalam dari malam.
Ia merampas sepeda seorang bocah. Lalu Vespa. Dan kemudian—ia menghilang.
Sejak saat itu, namanya menjadi bayangan yang berjalan di banyak kota. Bukan hanya di Jawa Tengah atau Yogyakarta, tetapi juga di Jakarta dan Jawa Barat. Seperti cerita lama yang selalu menemukan cara untuk diulang.
Petugas memburunya bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan ingatan—mencari pola, membaca jejak, menafsirkan ulang setiap kejahatan seperti membaca ulang sejarah yang sama dengan tokoh berbeda.
Hingga akhirnya, informasi datang. Rencana perampokan. Waktu. Tempat.
Dan seperti malam di Pandansimping, semuanya kembali ke satu titik: pertemuan antara niat dan kesempatan.
Mereka bertemu lagi di pompa bensin itu.
Bukan karena kebetulan, tetapi karena takdir seringkali memilih tempat yang sama untuk mengulang cerita yang belum selesai.
Kontak senjata tak terhindarkan.
Satu tewas. Dua luka berat. Tiga lolos.
Dan Slamet—sekali lagi—hilang.
Namun dunia, betapapun luasnya, selalu punya batas bagi pelarian. Orang-orang seperti Slamet tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya menunda pertemuan terakhir.
Konon, ia akhirnya ditemukan di Surabaya. Mati, seperti semua cerita yang terlalu lama hidup di antara peluru dan ketakutan.
Dan SPBU di Pandansimping itu?
Ia tetap berdiri. Lampunya tetap menyala. Menunggu—mungkin bukan untuk kendaraan berikutnya, tetapi untuk cerita lain yang suatu hari akan kembali pecah di bawah cahaya yang sama.
Karena sejarah, seperti malam, tidak pernah benar-benar usai.