REFORMASI-ID | Cilegon, Banten - Pasca terjadi ledakan di PT Merak Chemicals Indonesia (MCCI), pada Senin kemarin, dan untuk memastikan keselamatan warga, Waka Polres Cilegon KOMPOL M. Ridzky Salatun, tidak lantas duduk diam dibelakang meja kerja sambil menunggu laporan masuk terkait perkembangan.
Sesuai arahan dan petunjuk Kapolres Cilegon Polda Banten AKBP Martua Raja Taripar Laut Silitonga yang sedan berhalangan untuk dapat hadir dilokasi kejadian, agar Waka Polres harus memastikan kondisi dan keadaan warga pasca terjadi ledakan.
Selanjutnya, kemarin beberapa saat setelah kejadian ledakan dan membuat warga di sekitar lokasi Pabrik Kimia PT MCCI yang sebelumnya oleh warga dikenal dengan nama PT Mitsubishi Chemical Indonesia, Waka Polres langsung kelokasi bersama Walikota Cilegon Robinsar melakukan sidak.
Suasana didepan atau pada gerbang utama PT MCCI yang berlokasi di Jalan Raya Merak, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, Provinsi Banten, terlihat ratusan karyawan dan warga memadati jalan raya, sehingga sempat terjadi kemacetan arus lalulintas.
Setelah melakukan sidak di lokasi PT MCCI kembali Wakapolres Cilegon KOMPOL Mochamad Ridzky Salatun bersama Walikota Cilegon Robinsar dan Forkopimda Kota Cilegon, melanjutkan kunjungan ke RS Krakatau Medika (RSKM) Cilegon pada Senin malam, untuk mengetahui dan memastikan kondisi warga yang terdampak pasca insiden ledakan di PT MCCI.
Sebelum ke RSKM Cilegon, Waka Polres Cilegon bersama Walikota dan rombongan mendatangi Kantor Kelurahan Gerem, sekitar pukul 21.30 WIB, dalam rangka meminta data karyawan PT MCCI dan warga yang terdampak atau menjadi korban.
Selanjutnya, dari Kantor Kelurahan Gerem, Walikota bersama Waka Polres dan Komandan Dandim 0623/Cilegon Letkol Inf Imam Buchori, Humas PT MCCI Dhimas Andriyan, Lurah Gerem Hikmatul Ismat, dan Ketua RT Pasir Salam Santari, melanjutkan kunjungan ke rumah sakit RSKS Cilegon.
Dalam kunjungan yang dipimpin langsung oleh Walikota Cilegon Robinsar di Kantor Kelurahan Gerem, Walikota meminta ketua RT untuk mendata warga terdampak dan berkoordinasi dengan pihak PT MCCI.
Ia juga menginstruksikan agar warga yang memiliki keluhan, untuk segera dibawa ke puskesmas terdekat.
Lurah Gerem menyampaikan, bahwa data sementara warga terdampak di tiga lingkungan, yakni warga di Linkungan Pasir Salam, ada 41 orang, di Lingkungan Watulawang 80 orang, dan Linkungan Gerem Kagungan 38 orang.
Keluhan yang disampaikan para korban, diantaranya berupa mata pedih, sesak napas, mual, dan pusing, namun tidak seluruhnya memerlukan perawatan.
Pada kesempatan itu, Humas PT MCCI Dhimas Andriyan menyatakan, perusahaan akan melakukan rehabilitasi kesehatan dan memberikan bantuan sosial kepada warga terdampak. Waktu dan teknis pelaksanaan akan dikoordinasikan dengan pihak kelurahan.
Pukul 22.00 WIB, rombongan Forkopimda tiba di RSKM Cilegon untuk menjenguk korban yang dirawat di ruang Edelwis dan IGD.
Tiga orang yang masih mendapat perawatan, yakni atas nama Agus Raharjo, karyawan PT MCCI, Dadi Agustiadi, karyawan PT MCCI dan Nurgina Sriwulan.
Wakapolres Cilegon KOMPOL Mochamad Ridzky Salatun menegaskan, bahwa Polri bersama Forkopimda akan terus memantau perkembangan penanganan korban dan memastikan langkah pemulihan berjalan sesuai prosedur.
Polres Cilegon mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan petugas di lapangan.
Dihubungi terpisah, Walikota Cilegon Robinsar menegaskan, pihak perusahaan PT MCCO, diminta harus bertanggung jawab penuh terhadap warga terdampak.
Tahap awal ini, menurut Robinsar, fokus pemerintah adalah memastikan keamanan lingkungan, khususnya kualitas udara di sekitar area industri tersebut.
"Walaupun ada dua kesimpulan sementara, tetapi di tahap pertama ini, kami memastikan bahwa kondisi udara di lingkungan industri area tersebut aman," terangnya.
Hasil pemantauan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan tim terkait, memastikan udara di sekitar lokasi tidak membahayakan masyarakat.
"Tim DLH dan tim lainnya, memastikan lingkungan sekitar, khususnya kualitas udara, aman. Jadi, di tahap awal ini, kami hanya memastikan hal tersebut terlebih dahulu," lanjutnya.
Pemkot Cilegon, juga telah berkoordinasi dengan pihak kecamatan, kelurahan, puskesmas, hingga RT dan RW untuk mendata serta menangani warga yang terdampak akibat insiden.
"Kami menghimbau, kepada masyarakat Cilegon yang terdampak, karena kami sudah berkoordinasi dengan kecamatan, kelurahan, puskesmas terdekat, RT dan RW. Jika ada masyarakat di sekitar MCCI yang terdampak. Kami sudah menyiapkan tim puskesmas, lurah, dan camat untuk standby mendata warga dengan baik. Kami juga menyiapkan Rumah Sakit KSKM apabila memang ada penanganan lanjutan," ujarnya
Meski kondisi udara dinyatakan aman, penyebab pasti insiden tersebut hingga kini masih dalam tahap investigasi.
"Untuk penyebabnya, belum bisa dipastikan karena masih tahapan investigasi. Nanti hasil investigasi akan segera dirilis," ungkal Robinsar.
Sementara itu, Polda Banten melalui Kabidhumas Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, pada Selasa (26/5/2026) menjelaskan, kronologis kecelakaan kerja di PT MCCI), Kota Cilegon yang terjadi, pada Senin siang kemarin.
Dikatakan Maruli Ahiles Hutapea peristiwa tersebut terjadi pada Senin siang tanggal 25 Mei 2026, di PTA-1 PT. Merak Chemical Indonesia Kota Cilegon.
Berdasarkan keterangan PT. MCCI Sdr. Arif Budiawan, pada saat perusahaan sedang beroperasi normal, tiba-tiba terdengar suara cukup keras yang berasal dari area produksi.
Kemudian sistem Early Warning System menyala secara otomatis, sehingga perusahaan segera memerintahkan seluruh karyawan untuk melakukan evakuasi sebagai langkah antisipasi keselamatan kerja.
Lanjut Maruli Ahiles Hutapea menjelaskan, dugaan sementara karena kebocoran pipa akibat presure suhu yang sangat tinggi.
"Kebocoran itu, diduga menyebabkan peningkatan tekanan sehingga menimbulkan suara ledakan yang cukup besar dan memicu aktifnya sistem peringatan dini perusahaan," terangnya
Selanjutnya pihak perusahaan segera melakukan langkah-langkah penanganan awal dengan menghentikan sementara aktivitas pada area terkait, melakukan pengecekan teknis terhadap instalasi pipa dan reaktor.
"Dugaan sementara, karena kebocoran pipa akibat presure suhu yang sangat tinggi. Kebocoran diduga menyebabkan peningkatan tekanan sehingga menimbulkan suara ledakan yang cukup besar dan memicu aktifnya sistem peringatan dini perusahaan," ujarnya.
Kemudian, pihak perusahaan segera melakukan langkah-langkah penanganan awal dengan menghentikan sementara aktivitas pada area terkait, melakukan pengecekan teknis terhadap instalasi pipa dan reaktor. (Daeng Yusvin/Mdn)
