Ketika Papua Terus Menjerit, Negara Tak Bisa Lagi Menutup Mata Terhadap Konflit Serupa di Daerah Lain - Media Reformasi Indonesia (MRI)

14 Mei 2026

Ketika Papua Terus Menjerit, Negara Tak Bisa Lagi Menutup Mata Terhadap Konflit Serupa di Daerah Lain



REFORMASI-ID | HALBAR — Sekitar 400 warga memadati Desa Sasur, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat, dalam agenda nonton bareng film dokumenter Pesta Babi dan diskusi publik bertema geothermal “Barang Panas di Telaga Rano”. Kegiatan yang melibatkan masyarakat adat Suku Wayoli dan Suku Sahu itu berubah menjadi ruang konsolidasi penolakan terhadap rencana pengembangan panas bumi di kawasan hutan adat Telaga Rano.

Warga yang hadir berasal dari berbagai elemen, mulai dari pemuda, mahasiswa, pegiat lingkungan, tokoh adat, hingga jurnalis. Mereka mengikuti pemutaran film sekaligus diskusi yang menyoroti potensi dampak eksploitasi geothermal terhadap kawasan hutan, sumber air, dan ruang hidup masyarakat adat.

Koordinator kegiatan, Tiklas Pileser Babua, mengatakan agenda tersebut bukan sekadar pemutaran film, melainkan upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat adat menghadapi rencana operasional PT Ormat Geothermal Indonesia di wilayah Telaga Rano.

“Lewat diskusi dan nobar ini kami berharap masyarakat adat tetap menanamkan konsistensi perlawanan terhadap PT Ormat Geothermal Indonesia. Ini bukan hanya soal proyek, tetapi soal ruang hidup masyarakat adat,” kata Tiklas.

Film dokumenter Pesta Babi dipilih karena dinilai merepresentasikan ketimpangan relasi antara negara, korporasi, dan masyarakat adat dalam penguasaan wilayah hutan dan tanah adat. Sejumlah peserta diskusi menyebut situasi yang tergambar dalam film memiliki kemiripan dengan kondisi yang kini dihadapi masyarakat adat di Telaga Rano.

Dalam forum itu, sejumlah tokoh perempuan adat dan pegiat lingkungan turut menyampaikan kekhawatiran atas potensi kerusakan ekologis apabila eksploitasi panas bumi dilakukan tanpa persetujuan dan keterlibatan penuh masyarakat adat.

Mereka menilai kawasan Telaga Rano bukan sekadar wilayah proyek energi, melainkan ruang hidup yang selama ini menopang kebutuhan air, hutan, dan keberlangsungan budaya masyarakat Sahu dan Wayoli.

Kegiatan tersebut, sebagaimana dilansir akun Malut Info, menjadi salah satu konsolidasi warga terbesar di kawasan Sahu Timur dalam merespons isu geothermal yang belakangan memicu perdebatan di tengah masyarakat Halmahera Barat.

Rilis ini bersumber dari akun media sosial Malut Info.(Azaqhi07) 


Comments