Media Reformasi Indonesia (MRI): polda sulut
Tampilkan postingan dengan label polda sulut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label polda sulut. Tampilkan semua postingan

21 Mei 2026

Kapolres Albert Zai Sandang Gelar Adat “Tonaas Tonsea Waraney Gumigiroth”

 


REFORMASI-ID | BITUNG — Kapolres Bitung Albert Zai resmi dikukuhkan sebagai tokoh adat Minahasa dengan gelar “Tonaas Tonsea Waraney Gumigiroth” dalam rangkaian kegiatan Parade Adat Nusantara memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Kota Bitung, Rabu, 20 Mei 2026.

Penganugerahan gelar adat tersebut diberikan oleh Majelis Adat Budaya Tonsea Minahasa bersama Angkatan Muda MABTM sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan kontribusi Kapolres dalam menjaga keamanan serta merawat hubungan sosial masyarakat di Kota Bitung.


Selain Kapolres Bitung, gelar adat juga diberikan kepada Wali Kota Hengky Honandar, Wakil Wali Kota Randito Maringka, Dansatrol Kodaeral VIII Bitung Kolonel (P) Marvill Marfel Frits, serta Dandim 1310 Bitung Letkol Infanteri Dewa Made D. J..

Usai menerima gelar adat, Albert Zai menyampaikan rasa hormat dan apresiasi kepada masyarakat adat Tonsea Minahasa yang telah menerima dirinya sebagai bagian dari keluarga besar adat Minahasa.

“Saya dan keluarga tentu merasa bangga. Ini merupakan penghormatan sekaligus amanah yang harus saya jaga,” kata Albert.

Menurut dia, gelar “Tonaas Tonsea Waraney Gumigiroth” bukan sekadar simbol adat, melainkan tanggung jawab moral untuk terus menjaga persaudaraan, keamanan, dan ketertiban masyarakat di Kota Bitung.

Perwira polisi asal Nias itu juga mengajak seluruh masyarakat menjaga kebersamaan di tengah keberagaman suku, agama dan budaya yang hidup di Kota Bitung.

“Mari kita sama-sama menjaga Banua kita, tempat kita tinggal dan mencari kehidupan. Kalau daerah ini aman dan kondusif, maka masyarakat bisa hidup tenang, ekonomi berjalan baik, dan persaudaraan tetap terjaga,” ujarnya.

Pengukuhan tokoh-tokoh daerah dalam forum adat tersebut menjadi simbol kuat keterbukaan masyarakat adat Minahasa terhadap nilai persatuan lintas etnis. Momentum Hari Kebangkitan Nasional pun dimaknai tidak hanya sebagai peringatan sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga penguatan solidaritas sosial di tengah masyarakat majemuk Kota Bitung.

17 Mei 2026

MUSKOT SENKOM MANADO: Regenerasi Kepemimpinan Didorong Perkuat Sinergi Keamanan dan Respons Bencana




REFORMASI-ID | MANADO — Regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi kemasyarakatan mitra keamanan kembali berlangsung di Kota Manado. Musyawarah Kota (Muskot) Senkom Mitra Polri Kota Manado menetapkan kepengurusan baru periode 2026–2031 dengan agenda utama memperkuat kapasitas anggota, sinergi lintas sektor, serta adaptasi teknologi komunikasi dalam mendukung stabilitas keamanan dan pelayanan kemanusiaan.

Kegiatan yang dihadiri jajaran pengurus provinsi, pembina organisasi, hingga anggota Senkom tersebut berlangsung dalam suasana konsolidatif. Pergantian kepemimpinan dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat peran organisasi di tengah tantangan sosial dan dinamika keamanan yang terus berkembang.

Ketua Senkom Mitra Polri Provinsi Sulawesi Utara M. Amin Muslim, S. Kom, dalam sambutannya menegaskan bahwa kepemimpinan baru memikul tanggung jawab besar, bukan sekadar menjalankan roda organisasi secara administratif.

“Amanah ini bukan sekadar jabatan, tetapi merupakan tanggung jawab besar untuk menjaga soliditas organisasi, meningkatkan pengabdian kepada masyarakat, serta memperkuat sinergitas dengan aparat keamanan dan pemerintah daerah,” ujarnya.

Ia berharap kepengurusan baru mampu menghadirkan semangat dan pola kerja yang lebih progresif, terutama dalam membangun koordinasi dengan kepolisian, pemerintah daerah, hingga unsur kebencanaan dan sosial kemasyarakatan.

Menurutnya, keberadaan Senkom Mitra Polri harus tetap relevan sebagai organisasi yang bergerak cepat membantu masyarakat, baik dalam situasi keamanan maupun kondisi darurat.

“Organisasi ini harus terus hadir sebagai mitra strategis dalam membantu menjaga keamanan, ketertiban masyarakat, penanggulangan bencana, serta kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya,” katanya.

Di sisi lain, Ketua Senkom Mitra Polri Kota Manado  terpilih menegaskan kepemimpinan yang diembannya bukan bentuk kehormatan simbolik, melainkan mandat organisasi yang harus dijalankan secara kolektif bersama seluruh anggota.

“Jabatan ini bukanlah sebuah hadiah, melainkan sebuah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada organisasi, masyarakat, maupun di hadapan Tuhan,” ujarnya di hadapan peserta Muskot.

Dalam pidato perdananya, ia memaparkan tiga fokus utama kepengurusan baru. Pertama, peningkatan kapasitas anggota melalui pelatihan komunikasi, keamanan lingkungan, dan kesiapsiagaan SAR. Kedua, memperkuat kemitraan strategis dengan POLRI, TNI, BNPB, serta instansi terkait lainnya. Ketiga, optimalisasi teknologi komunikasi digital untuk mempercepat penyampaian informasi dan koordinasi lapangan.

Ia juga menekankan pentingnya soliditas internal organisasi di tengah meningkatnya tantangan sosial dan kebutuhan respons cepat terhadap persoalan masyarakat.

“Sebuah organisasi tidak akan pernah besar karena satu orang ketua, melainkan karena kerja keras, soliditas, dan loyalitas dari seluruh anggotanya,” katanya.

Pergantian kepemimpinan itu sekaligus menjadi ruang evaluasi terhadap peran organisasi masyarakat berbasis kemitraan keamanan di daerah. Di tengah meningkatnya kebutuhan kolaborasi sipil dan aparat, Senkom dinilai dituntut lebih profesional, terukur, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi serta dinamika sosial perkotaan.

Muskot tersebut juga diwarnai penyampaian penghargaan kepada pengurus sebelumnya atas kontribusi dan pengabdian mereka selama masa kepemimpinan. Pengurus provinsi berharap estafet organisasi tidak berhenti pada seremonial pergantian ketua, melainkan melahirkan konsolidasi yang lebih kuat hingga tingkat anggota di lapangan.