Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII): Lahir di Era Digital Gen Alpha Butuh Lebih dari Sekadar Literasi Teknologi - Media Reformasi Indonesia (MRI)

03 November 2026

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII): Lahir di Era Digital Gen Alpha Butuh Lebih dari Sekadar Literasi Teknologi

REFORMASI-ID |  BEKASI – Generasi Alpha tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital. Akses terhadap berbagai konten semakin mudah, tetapi kemampuan menggunakan teknologi saja dinilai belum cukup untuk membentuk generasi yang unggul. Penguatan karakter, integritas, pemahaman agama, hingga kemandirian menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan masa depan.

Ketua DPP LDII Bidang Pendidikan dan Dakwah, Dr. H. Dwi Pramono, Lc., M.S.I., menilai perkembangan media sosial menjadi salah satu tantangan dalam pembinaan generasi muda saat ini. Video pendek dan berbagai narasi digital dapat memengaruhi cara pandang generasi muda dalam memahami suatu persoalan. Karena itu, pendampingan dan edukasi diperlukan agar mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menyaring serta memanfaatkan teknologi secara positif.

“Media sosial itu ibarat pisau bermata dua. Ketika generus bisa menggunakannya dalam hal positif, misalnya untuk dakwah, tentu akan mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, ketika tidak memiliki benteng yang kuat, mereka bisa terkena dampak buruk dari media sosial,” jelasnya.

Menurut Dwi, pembinaan generasi tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai unsur organisasi, mulai dari Penggerak Pembina Generus (PPG) hingga jajaran LDII di tingkat pusat dan daerah. Upaya tersebut menjadi bagian dari persiapan mencetak generasi yang mampu menyongsong bonus demografi 2045.

Ia juga menegaskan bahwa pembinaan generasi tidak boleh hanya berorientasi pada kegiatan keagamaan. Melalui konsep Tri Sukses Generus, terdapat tiga aspek utama yang perlu dibangun, yaitu berakhlakul karimah, alim faqih, dan mandiri. Ketiganya diharapkan mampu membentuk generasi yang memiliki pemahaman agama, kepekaan sosial, serta kompetensi untuk menghadapi persaingan kehidupan.

“Tidak cukup hanya materi pengajian dan keagamaan. Sosial dan kemandirian juga harus ditanamkan sehingga mereka kuat menghadapi persaingan di era saat ini,” ungkapnya.

Lebih jauh, Dwi menyoroti pentingnya penanaman 29 karakter luhur sebagai fondasi pembentukan kepribadian generasi muda. Dari seluruh karakter tersebut, ia menempatkan kejujuran sebagai salah satu nilai utama yang perlu dibiasakan sejak dini.

Menurutnya, integritas tidak selalu dibangun melalui tindakan besar. Kebiasaan sederhana seperti segera memenuhi panggilan azan, merapikan tempat tidur setelah bangun, hingga menata sandal ketika masuk masjid merupakan bagian dari latihan karakter dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika orang sudah membiasakan jujur, integritasnya dibangun pada dirinya. Satu kebaikan yang kita kerjakan akan menarik nilai-nilai karakter yang lainnya,” tuturnya.

Semangat pembinaan tersebut turut diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Generasi Unggul (FGU) 3.0 oleh PC LDII Bekasi Barat. Mengusung tema “Gen Alfa: Generasi Anak Saleh-Salehah Berprestasi, Hebat, dan Berkarakter”, kegiatan ini menjadi ruang untuk mendorong potensi generasi muda sekaligus memperkuat kolaborasi lintas generasi.

Ketua Panitia FGU 3.0, Pandu, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari penyelenggaraan FGU sebelumnya pada 2017 dan 2024. Melalui FGU 3.0, pihaknya berharap dapat berkontribusi dalam mencetak generasi masa depan yang profesional religius serta mampu menerapkan 29 karakter luhur.

“FGU ini bukan hanya menjadi ajang evaluasi atau perlombaan biasa, tetapi bagaimana bisa menjadi ajang kolaborasi antara semuanya. Mulai dari usia PAUD sampai usia istimewa bisa berkolaborasi,” jelas Pandu.

Salah satu bentuk kolaborasi tersebut terlihat melalui lomba video campaign yang melibatkan peserta lintas usia untuk membuat konten ajakan menghadiri FGU 3.0. Selain itu, panitia juga menyediakan ruang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memasarkan produknya tanpa dipungut biaya. Kesempatan tersebut turut dibuka bagi UMKM dari lingkungan PAC agar generasi muda semakin berani mengembangkan kreativitas serta jiwa kewirausahaan.

Melalui pembinaan yang berkelanjutan dan ruang aktualisasi seperti FGU 3.0, penguatan generasi Alpha diharapkan tidak hanya berfokus pada kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Lebih dari itu, mereka perlu tumbuh dengan karakter luhur, integritas, kreativitas, dan kemandirian.

Sebagaimana ditekankan Dwi, kualitas generasi lima hingga sepuluh tahun mendatang merupakan cerminan dari keberhasilan pembinaan hari ini. Dengan demikian, menyiapkan generasi unggul menuju 2045 harus dimulai dari pendampingan, keteladanan, dan pembiasaan karakter sejak sekarang.  (LINES) 






Comments