SP2MI Dorong Penguatan Literasi di 38 PKBM Jakarta Utara, Sasar Anak Putus Sekolah - Media Reformasi Indonesia (MRI)

30 September 2026

SP2MI Dorong Penguatan Literasi di 38 PKBM Jakarta Utara, Sasar Anak Putus Sekolah



Media Reformasi, JAKARTA UTARA — Serikat Penggerak Pendidikan Masyarakat Indonesia (SP2MI) terus mendorong penguatan budaya literasi melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Jakarta Utara. Gerakan ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi digital, tetapi juga diproyeksikan mendukung pendampingan anak yang tidak lagi bersekolah maupun yang putus sekolah.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan peringatan Hari Literasi di PKBM Mutiara Hati, Jalan Moa, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (29/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri pengurus SP2MI Jakarta Utara, pengelola PKBM, tutor, serta warga belajar.

Ketua Umum SP2MI Drs. Amirudin Yusuf mengatakan, momentum Hari Literasi menjadi bagian dari upaya memperkuat gerakan literasi melalui jalur pendidikan nonformal. Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk kembali membangun kesadaran warga belajar mengenai pentingnya membaca dan memiliki kemampuan literasi.

 “Bulan literasi ini menjadi momentum untuk membangun kesadaran warga belajar PKBM, khususnya di Jakarta Utara, agar kembali menumbuhkan semangat membaca dan kesadaran berliterasi,” kata Amirudin.

 Ia menjelaskan, Jakarta Utara menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian SP2MI karena memiliki jumlah penduduk yang cukup padat. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu alasan untuk memperluas gerakan literasi di lingkungan pendidikan nonformal.


 Amirudin menambahkan, rangkaian kegiatan literasi sepanjang September juga selaras dengan dorongan pemerintah di sektor pendidikan nonformal agar PKBM turut memperingati dan mengembangkan berbagai program yang berkaitan dengan literasi.


 Menurut dia, kegiatan literasi seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Program tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan melalui aktivitas membaca, pembelajaran, penguatan literasi digital, serta berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan warga belajar.


 “Dengan gerakan literasi yang semakin masif, kami berharap kesadaran membaca dan literasi digital dapat tumbuh di tengah masyarakat,” ujarnya.


Jaringan 38 PKBM


 Amirudin menegaskan, pengembangan budaya literasi membutuhkan dukungan dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, pengelola PKBM, tutor, hingga masyarakat.


 Di Jakarta Utara, gerakan tersebut telah mencakup jaringan PKBM yang berada di bawah koordinasi wilayah Jakarta Utara I dan Jakarta Utara II.


 Koordinator Wilayah Jakarta Utara SP2MI Nanik Sri Utami menyebutkan, terdapat sekitar 38 PKBM yang tergabung dalam jaringan pendidikan nonformal di wilayah tersebut.


 “Untuk jaringan yang ada di Jakarta Utara jumlahnya sekitar 38 PKBM,” kata Nanik.


 Ia menjelaskan, wilayah Jakarta Utara I mencakup Tanjung Priok, Penjaringan, dan Pademangan. Sementara Jakarta Utara II meliputi Cilincing, Koja, dan Kelapa Gading.


 Menurut Nanik, kegiatan literasi pada dasarnya telah menjadi bagian dari aktivitas pembelajaran di masing-masing PKBM. Setiap lembaga dapat mengembangkan program sesuai karakteristik serta kebutuhan warga belajar di wilayahnya.


 Warga Belajar Aktif Ikuti Kegiatan Literasi


 Sekretaris Koordinator Wilayah Jakarta Utara SP2MI sekaligus Koordinator Wilayah Jakarta Utara II, Dewi Agustina, mengatakan program literasi mendapat sambutan positif dari warga belajar.


 Hal tersebut antara lain terlihat dari keterlibatan mereka dalam sejumlah kegiatan dan perlombaan yang berkaitan dengan literasi.


 “Warga belajar PKBM juga memiliki prestasi yang baik dalam bidang literasi. Hal itu terlihat dari antusiasme mereka mengikuti berbagai perlombaan,” ujar Dewi.


 Ia menilai kegiatan tersebut dapat menjadi wadah bagi warga belajar untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun rasa percaya diri.


Literasi Didorong Terhubung dengan Pendampingan Anak Tidak Sekolah


 SP2MI juga menyiapkan langkah untuk mengembangkan gerakan literasi agar terhubung dengan program pendampingan anak tidak sekolah dan anak putus sekolah.


 Amirudin mengatakan, penguatan program tersebut penting karena persoalan keberlanjutan akses pendidikan berkaitan erat dengan kemampuan literasi. Anak yang tidak mendapatkan pendidikan secara berkelanjutan, menurut dia, membutuhkan pendampingan agar dapat kembali memperoleh kesempatan untuk belajar.


 Ia menyebutkan, data mengenai anak tidak sekolah yang dibahas pemerintah mencapai sekitar 4 juta orang. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian SP2MI dalam mendorong pengembangan program pendampingan.


 Saat ini, SP2MI masih menantikan tindak lanjut dari Kementerian Sosial mengenai rencana sinergi dalam program pendampingan anak tidak sekolah.


 “Kami sedang menunggu undangan dari Kementerian Sosial untuk membahas kerja sama terkait gerakan anak tidak sekolah. Harapannya, program pendampingan dan gerakan literasi ini dapat dimulai dari Jakarta Utara dan kemudian berkembang secara nasional,” kata Amirudin.


Semangat Warga Belajar


 Peringatan Hari Literasi di PKBM Mutiara Hati turut diikuti warga belajar dari berbagai jenjang. Salah satunya Galuh Kirana Wijaya, warga belajar Paket A kelas VI yang berusia 12 tahun.


 Galuh mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Selain mendapatkan pengalaman belajar, ia juga dapat bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman baru.


 Menurut Galuh, kegiatan literasi membuatnya semakin termotivasi untuk belajar. Ia juga mengajak anak-anak seusianya yang masih mengalami kesulitan membaca maupun mengenal huruf dan angka agar terus berusaha belajar.


 “Tetap semangat belajar. Kalian pasti bisa,” ujar Galuh.


 SP2MI berharap kegiatan literasi di lingkungan PKBM dapat terus berkembang dan tidak hanya berfokus pada aktivitas membaca. Gerakan tersebut diharapkan turut menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan memperoleh pendidikan serta meningkatkan kemampuan masyarakat secara berkelanjutan.


Comments