Perkuat 4 Pilar Kebangsaan, Densus 88 Bekali Siswa SMA, SMP, dan SMK Anti Radikalisme Digital - Media Reformasi Indonesia (MRI)

15 Juli 2026

Perkuat 4 Pilar Kebangsaan, Densus 88 Bekali Siswa SMA, SMP, dan SMK Anti Radikalisme Digital


REFORMASI-ID | PALEMBANG – Tim Cegah Satgaswil Sumatera Selatan Densus 88 AT Polri menggelar rangkaian sosialisasi "Pencegahan Ideologi Radikal Ekstremisme dan Terorisme (IRET) di Era Digital" kepada siswa baru di tiga sekolah berbeda selama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), 13-14 Juli 2026.

Kegiatan menyasar lebih dari 1.200 pelajar di SMAN 10 Palembang, SMPN 06 Talang Kelapa, dan SMK Negeri 1 Palembang. Tujuannya sama: membekali generasi muda agar tidak terpapar paham radikal yang kini masif menyebar lewat media sosial dan game online.

Di SMAN 10 Palembang, Senin 13 Juli 2026 pukul 11.00-13.30 WIB di Aula sekolah, sebanyak 500 siswa baru menerima materi dari Briptu Achmad Nur Rohman, S.H. Ia menekankan pergeseran penyebaran IRET ke dunia digital dan pentingnya literasi digital. "Siswa harus mampu mengenali website, akun, dan konten radikal," ujarnya. Turut hadir Wakil Kepala Sekolah, Dewan Guru, BK, dan staf.

Sehari kemudian, SMPN 06 Talang Kelapa, Selasa 14 Juli 2026 pukul 11.00-13.30 WIB di Aula sekolah, menjadi tempat sosialisasi untuk 210 siswa baru. Narasumber Briptu Nicolas Saputra, S.H. menyoroti 4 konsensus dasar negara dan menegaskan radikalisme tidak mengenal agama tertentu. Materi mencakup tren belajar agama lewat medsos, cluster ekstremisme berbasis kekerasan, alur perekrutan di dunia maya, serta contoh perilaku intoleransi. Kepala Sekolah, Dewan Guru, BK, dan OSIS turut mendampingi.

Masih di hari yang sama, SMKN 1 Palembang menggelar kegiatan pukul 13.00-14.05 WIB di Lapangan sekolah dengan sekitar 500 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru, BK, OSIS, dan siswa baru. Materi disampaikan Brigpol Wahyu Ansori, S.H., M.H, didampingi Brigpol Putra Yesa, S.H., M.H. Fokus pembahasan adalah proses tahapan radikalisme: dari intoleransi, radikal, hingga teror. Siswa diedukasi mengenali ciri akun dan website radikal serta memahami peran Pancasila sebagai benteng utama.

Ketiga kegiatan berlangsung interaktif. Siswa antusias bertanya dan berdiskusi. Poin yang berulang ditekankan para narasumber: penyebab pemuda terpapar radikal, modus rekrutmen lewat medsos dan game online, dan peran strategis orang tua serta sekolah dalam mengawasi aktivitas dunia maya anak.

Tim Cegah Satgaswil Sumsel Densus 88 AT Polri menegaskan komitmennya untuk terus berkolaborasi dengan lembaga pendidikan di Sumsel. "Dengan pembekalan sejak awal sekolah, kita harapkan dapat memutus rantai penyebaran paham yang bertentangan dengan nilai bangsa dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman, toleran, dan berwawasan kebangsaan," tutup tim. (Hms/Mdn)


Comments