Essai Mahar Prastowo
Pukul 03.13 WIB.
Jakarta Timur belum benar-benar tidur.
Lampu jalan masih menyala pucat di Jalan Raya Bogor. Warung kopi tinggal separuh buka. Truk sayur mulai melintas. Udara dini hari menusuk tulang.
Lalu patroli polisi melihat dua remaja mencurigakan.
Mereka kabur.
Dikejar.
Tertangkap.
Di tangan mereka ada kembang api yang diduga akan dipakai untuk tawuran. Bukan petasan Lebaran. Bukan perayaan tahun baru. Tetapi penanda perang kecil antarremaja.
Di hari lain, di Jalan Raya Tengah Kramat Jati, polisi menemukan sepuluh remaja lain.
Ada yang masih SMP.
Ada yang baru kelas 9.
Ada yang membawa celurit.
Ada yang membawa stik golf.
Ada yang membawa motor tanpa pelat nomor.
Jakarta Timur rupanya belum selesai dengan tawuran.
Padahal dunia sedang bicara kecerdasan buatan.
Orang-orang membahas robot.
Negara berlomba membuat kendaraan listrik.
Anak-anak muda Korea sibuk menciptakan startup.
Sementara sebagian remaja di sudut Jakarta masih berkumpul dini hari membawa corbek.
Itulah yang terasa paling menyedihkan dalam Forum Peningkatan Pencegahan Tawuran di Hotel Arion Rawamangun, Selasa (19/05/2026).
Forum itu bukan forum marah-marah.
Bukan pula acara seremonial penuh tepuk tangan.
Ia lebih mirip ruang kegelisahan bersama.
Polisi datang.
Sekolah datang.
Komite datang.
Kesbangpol datang.
Anak-anak sekolah swasta duduk mendengarkan.
Mereka mendengar sesuatu yang mungkin jarang mereka dengar secara telanjang:
data tawuran.
AKBP Jemico Sianturi dari Intelkam Polres Metro Jakarta Timur membuka angka yang membuat ruangan mendadak sunyi.
98 tawuran.
Hanya dalam Januari sampai September 2025.
Sembilan puluh delapan.
Artinya hampir setiap tiga hari sekali ada bentrokan.
Bukan satu kecamatan.
Tetapi menyebar: Cakung. Duren Sawit. Jatinegara. Makasar. Ciracas. Pasar Rebo.
Jakarta Timur seperti memiliki lingkaran luka yang terus berulang.
Yang menarik, polisi sekarang tidak lagi melihat tawuran sekadar kenakalan remaja.
Mereka mulai melihatnya sebagai kerusakan ekosistem sosial.
Ada keluarga yang melemah.
Ada orang tua yang terlalu sibuk.
Ada anak-anak yang tumbuh bersama media sosial tetapi tidak tumbuh bersama pengawasan.
Ada solidaritas kelompok yang berubah menjadi keberanian semu.
Ada kebutuhan eksistensi yang mencari panggung lewat kekerasan.
Dan media sosial mempercepat semuanya.
Dulu anak-anak janjian tawuran lewat surat.
Lalu SMS.
Sekarang lewat grup chat.
Lewat live Instagram.
Lewat ejekan TikTok.
Kadang hanya karena komentar.
Kadang hanya karena lambang sekolah.
Kadang bahkan karena “wilayah”.
Saya membayangkan bagaimana absurdnya zaman ini.
Anak-anak yang seharusnya berlomba membuat aplikasi justru berlomba mengumpulkan massa untuk saling serang.
#
Di tengah forum itu, ada satu pemateri yang berbicara dengan cara berbeda.
Namanya Fauzan Ahmad.
Bahasa yang ia pakai bukan bahasa birokrasi.
Bukan pula bahasa aparat.
Ia berbicara seperti kakak kepada adiknya.
Kalimat pembuka presentasinya justru terasa paling menampar:
“Tawuran itu bukan solidaritas. Itu cara tercepat membuat hidupmu bermasalah.”
Lalu ia bertanya kepada para siswa:
“Siapa di sini pernah lihat atau hampir ikut tawuran?”
Ruangan mendadak berubah hening.
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi mungkin menembus lebih dalam daripada ancaman pidana.
Fauzan tampaknya memahami satu hal penting: remaja sering masuk tawuran bukan karena benar-benar ingin melukai orang lain.
Mereka hanya ingin dianggap ada.
Ingin diakui.
Ingin diterima kelompoknya.
Itu sebabnya ia menyebut tawuran bukan soal keberanian.
Melainkan kebutuhan emosional yang salah jalan.
Ia membongkar “kebohongan” yang sering hidup di kepala remaja.
“Cuma ikut sebentar.”
“Biar solid sama teman.”
“Aman kok, gue udah pernah.”
Padahal, kata Fauzan, satu menit dalam tawuran bisa mengubah seluruh hidup seseorang.
Cedera.
Penjara.
Atau kematian.
Dan yang paling menarik, Fauzan tidak hanya bicara moral.
Ia bicara tentang otak remaja.
Tentang biologi.
Tentang bagaimana emosi berkembang lebih cepat dibanding kemampuan mengambil keputusan rasional.
Artinya: remaja memang lebih mudah terseret tekanan kelompok.
Lebih takut ditolak teman daripada takut masa depan rusak.
Penjelasan itu terasa penting.
Karena selama ini orang dewasa sering hanya memarahi remaja tanpa mencoba memahami mengapa mereka mudah terseret arus.
#
AKP Aang Suhana mungkin termasuk polisi yang juga mulai memahami itu.
Ia berbicara tentang pencegahan.
Tentang mitigasi.
Tentang patroli media sosial.
Tentang mendatangi sekolah sebelum tawuran pecah.
Ia menyebut polisi sekarang harus bergerak sebelum darah jatuh ke jalan.
Dan memang itu terlihat dari data lapangan.
Pada 7 Mei lalu, Tim Patroli Perintis Presisi menggagalkan tawuran di Cakung sebelum dimulai. Dua remaja diamankan bersama empat senjata tajam.
Di Klender, polisi menemukan pelajar membawa celurit dan air keras.
Di Jatinegara, polisi menemukan percakapan rencana tawuran dari telepon genggam yang tertinggal saat para remaja kabur.
Artinya: tawuran sekarang makin terorganisasi.
Ada pola.
Ada komunikasi.
Ada mobilisasi.
Bahkan kadang ada dokumentasi video.
Yang mengerikan, sebagian pelakunya masih sangat muda.
Masih SMP.
Masih anak-anak.
Saya membayangkan ibunya mungkin masih menyiapkan sarapan pagi saat anaknya diamankan polisi dini hari.
#
Fauzan lalu memperlihatkan sesuatu yang sederhana tetapi mengerikan.
Sebuah rantai domino kehidupan.
Ikut tawuran.
Ditangkap polisi.
Dikeluarkan sekolah.
Kehilangan masa depan.
Sesederhana itu.
Ia mengingatkan bahwa 30 menit tawuran bisa membuat seseorang menanggung akibat selama 30 tahun.
Kalimat itu mungkin terdengar seperti slogan seminar.
Tetapi di Jakarta Timur, ia terasa nyata.
Karena data kepolisian memang memperlihatkan bagaimana tawuran kini identik dengan: senjata tajam, pengeroyokan, perusakan, bahkan ancaman pidana serius.
Dan satu bagian presentasi Fauzan terasa paling pahit:
“Tawuran menciptakan lingkaran setan: catatan buruk → sulit kerja → tekanan ekonomi → frustrasi → masalah baru.”
Kalimat itu seperti menjelaskan mengapa kekerasan jalanan kadang terus berulang lintas generasi.
#
Di forum itu, Wakil Wali Kota Jakarta Timur Kusmanto berbicara sederhana.
Justru karena sederhana, kata-katanya terasa keras.
“SMA hanya tiga tahun.”
Kalimat itu sebenarnya biasa saja.
Tetapi menjadi berbeda ketika diucapkan di hadapan remaja yang hidup di lingkungan rawan tawuran.
Tiga tahun memang pendek.
Sangat pendek.
Bisa habis hanya untuk ikut konvoi motor.
Untuk solidaritas palsu.
Untuk dendam antarsekolah yang bahkan asal-usulnya mungkin sudah tidak jelas lagi.
Padahal dunia kerja hari ini semakin kejam.
Artificial intelligence mulai mengganti banyak pekerjaan teknis.
Perusahaan mencari keterampilan.
Bukan keberanian membawa celurit.
#
Di akhir presentasinya, Fauzan memberi alternatif yang jarang dibicarakan saat membahas tawuran.
Ia tidak hanya berkata “jangan tawuran”.
Ia menawarkan jalan lain untuk mendapatkan pengakuan.
Lewat prestasi.
Olahraga.
Karya.
Skill digital.
Lingkungan pertemanan baru.
Mungkin itu inti persoalannya.
Anak muda memang ingin diakui.
Masalahnya hanya: diakui karena apa?
Karena video tawuran viral?
Atau karena berhasil membuat sesuatu?
#
Di akhir acara, saya justru tidak terlalu mengingat angka-angka.
Saya lebih mengingat satu bayangan:
anak-anak berseragam sekolah duduk diam mendengarkan pemaparan tentang masa depan mereka sendiri.
Mungkin sebagian pernah hampir ikut tawuran.
Mungkin ada yang pernah diajak.
Mungkin ada yang diam-diam sedang berada di persimpangan.
Lalu seseorang di depan ruangan bertanya:
“30 menit itu sepadan tidak dengan 30 tahun hidupmu?”
Dan Jakarta Timur tampaknya sedang berusaha menjawab pertanyaan itu sebelum semuanya terlambat.
Galeri:
















