REFORMASI-ID | Banten - Banjir bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah ujian sunyi bagi nurani manusia. Ketika air meluap dan merenggut rasa aman, yang tersisa bukan hanya genangan, tetapi pertanyaan mendasar tentang solidaritas dan tanggung jawab kolektif umat manusia, Jum'at (16/01/2026).
Di wilayah Kecamatan Patia dan sekitarnya, Kabupaten Pandeglang, ratusan warga terdampak banjir yang memutus akses, melumpuhkan aktivitas ekonomi, serta memaksa keluarga bertahan dalam ketidakpastian. Dalam situasi seperti ini, kemanusiaan tidak boleh berhenti pada rasa iba—ia harus menjelma menjadi tindakan nyata.
Merespons kondisi tersebut, Entis Sumantri, Sekretaris DPD KNPI Kabupaten Pandeglang, membuka donasi kemanusiaan sekaligus mendirikan posko bantuan di wilayah Kecamatan Patia. Langkah ini menjadi penanda bahwa di tengah keterbatasan, masih ada harapan yang dibangun di atas kepedulian.
“Bencana mengingatkan kita bahwa manusia pada hakikatnya saling bergantung,” ujar Entis Sumantri di sela persiapan bantuan sosial yang akan disalurkan pada Sabtu, 16 Januari 2026.
Dalam pandangan filsafat humanisme, penderitaan satu orang adalah cermin bagi kesadaran banyak orang. Karena itu, Entis mengajak para dermawan—baik individu, komunitas, dunia usaha, maupun lembaga kemanusiaan—untuk tidak memandang Patia sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai bagian dari denyut kehidupan bersama.
“Derma bukan tentang kelebihan harta, tetapi tentang keberanian berbagi, Bantuan sekecil apa pun adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakpedulian,” lanjutnya.
Posko kemanusiaan yang dibuka DPD KNPI Pandeglang menjadi pusat pengumpulan bantuan berupa kebutuhan pokok, logistik, pakaian layak pakai, serta dukungan moral bagi warga terdampak.
Bantuan tersebut akan disalurkan secara langsung dan bertahap, dengan prinsip transparansi dan keadilan. Di tengah dunia yang kerap disibukkan oleh kepentingan sendiri, Patia mengirimkan pesan yang sederhana namun universal: kemanusiaan tidak mengenal batas geografis. Kepedulian adalah bahasa global yang dipahami oleh semua nurani yang hidup.
Ketika air surut kelak, yang akan dikenang bukan hanya besarnya banjir, tetapi siapa saja yang memilih untuk hadir dan peduli.
(Rilis)
