Media Reformasi Indonesia (MRI): Polri
Tampilkan postingan dengan label Polri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Polri. Tampilkan semua postingan

11 September 2026

Raih Kategori Gold, PT PLN RCC Makassar Sukses Jalani Audit Sistem Manajemen Pengamanan Ditpamobvit Baharkam Polri



REFORMASI-ID | Makassar - Tim Audit dari Direktorat Pengamanan Objek Vital (Ditpamobvit) Korsabhara Baharkam Polri sukses menyelesaikan rangkaian audit implementasi Sistem Manajemen Pengamanan (SMP) hari ketiga di PT PLN RCC – Sistem Makassar pada Jumat (11/9/2026). Audit yang berlangsung di Ruang Manggabarani, Hyatt Makassar ini menempatkan PLN RCC Makassar dalam kategori "Gold" atau "Sangat Baik" dengan capaian nilai memuaskan sebesar 92,24 persen.

Ketua Tim Audit Implementasi SMP Obvitnas PT PLN RCC – Sistem Makassar, Kombes Pol. Choiron El Atiq, S.H., S.I.K., M.H., menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan pemeriksaan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan target yang telah ditetapkan bersama.

"Hari ini merupakan hari ketiga sekaligus penutup dari rangkaian audit. Kami telah merampungkan wawancara mendalam dengan petugas pengamanan internal serta melakukan pemeriksaan dokumen penting seperti laporan pelaksanaan tugas, Analisis Risiko Pengamanan (ARP), Rencana Pengamanan (Renpam), Rencana Kontinjensi (Renkon), hingga Standard Operating Procedure (SOP)," ujar Kombes Pol. Choiron El Atiq dalam keterangan resminya.

Pemeriksaan intensif pada hari terakhir ini berfokus pada tiga elemen krusial, yaitu Elemen III terkait Konfigurasi Pengamanan, Elemen IV mengenai Standar Kemampuan Pelaksana Pengamanan, serta Elemen V tentang Monitoring dan Evaluasi. Tim auditor juga melakukan review menyeluruh terhadap skor implementasi dari Elemen I hingga Elemen V.

Proses penutupan audit diakhiri dengan penandatanganan dan penyerahan Berita Acara (BA) hasil audit secara resmi kepada Manager UP2B Sistem Makassar, Bapak Furqon Idris. Penyerahan tersebut disaksikan langsung oleh jajaran internal tim Ditpamobvit Baharkam Polri yang beranggotakan AKP Juhari, S.H., Ir. M. Dedy Murdiana, SST.MK., dan Widiyanto, S.E., M.H.

Dari pihak eksternal dan perusahaan, hadir pula Senior Manager Operasi Sistem, Ibu Andi Murniawati, yang mewakili General Manager PLN UIP3B Sulawesi Bapak Fermi Trafianto, beserta para staf dan auditi UP2B Sistem Makassar.

Hasil predikat "Gold" ini menegaskan komitmen kuat PT PLN RCC – Sistem Makassar dalam menjaga dan menerapkan standar keamanan objek vital nasional secara konsisten, aman, dan berkelanjutan demi mendukung keandalan sistem ketenagalistrikan di wilayah Sulawesi.

Alumni Akpol 1996 Batalyon Wira Satya Turut Dukung Modernisasi Fasilitas Akpol



REFORMASI-ID | Semarang - Akademi Kepolisian (Akpol) terus memodernisasi fasilitas pendidikan untuk memperkuat kualitas pembentukan calon perwira Polri. Dalam pembenahan tersebut, Alumni Akpol 1996 Batalyon Wira Satya ikut mengambil peran dengan membangun dapur taruna lengkap dengan berbagai perlengkapannya.

Wakapolri Komjen Pol Prof. Dedi Prasetyo menandai rangkaian modernisasi fasilitas pendidikan Akpol melalui peletakan batu pertama renovasi di kampus Akpol, Kota Semarang, Jumat (11/9/2026).

Modernisasi tersebut mencakup renovasi ruang makan taruna, pembenahan fasad Resimen Taruna, hingga peresmian laboratorium komputer. Sejumlah alumni Akpol dari berbagai angkatan juga ikut berkontribusi dalam pembangunan fasilitas tersebut.

Alumni Akpol 1996 Bangun Dapur Taruna

Ketua Alumni Akpol 1996 Batalyon Wira Satya, Brigjen Pol Budhi Herdi Susianto, mengatakan angkatannya memilih mengambil bagian langsung dalam pembenahan fasilitas Akpol.

Alumni Batalyon Wira Satya membangun dapur taruna beserta seluruh perlengkapannya untuk mendukung kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari para taruna.

“Kami ambil bagian bangun dapur dengan segala isinya, seizin dari ketua pembina angkatan kami Bapak Kapolda Jateng (Irjen Pol Ribut Hari Wibowo), kami sepakat untuk membantu membangun Akpol, khususnya dapur Akpol hingga selesai,” kata Brigjen Budhi.

Menurutnya, kontribusi tersebut menjadi bentuk tanggung jawab alumni terhadap almamater. Alumni Akpol 1996 Batalyon Wira Satya ingin terus memberikan dukungan nyata kepada Akpol setelah menyelesaikan pendidikan puluhan tahun lalu.

“Jadi kami tidak akan lari dari tanggungjawab, karena kami diajarkan oleh pengasuh-pengasuh kami yang luar biasa,” tegasnya.

Kontribusi Alumni Akpol 1996 Batalyon Wira Satya itu sekaligus menunjukkan kuatnya hubungan antara almamater dan para lulusan. Alumni tidak hanya mengenang masa pendidikan, tetapi juga ikut memperkuat fasilitas yang digunakan generasi taruna berikutnya.

Renovasi Ruang Makan Tampung 1.000 Taruna

Komjen Dedi mengatakan pengembangan fasilitas Akpol menjadi bagian dari gagasan modernisasi yang semakin kuat sejak 2024. Akpol juga mengambil pembelajaran dari pengelolaan fasilitas di Akademi Militer.

“Pengembangan fasilitas Akpol merupakan bagian dari gagasan modernisasi yang makin diperkuat sejak tahun 2024, termasuk melalui pembelajaran dari pengelolaan fasilitas di Akademi Militer,” kata Komjen Dedi.

Renovasi ruang makan taruna akan menyesuaikan kebutuhan Akpol yang dapat menampung hingga sekitar 1.000 taruna. Akpol juga menyelaraskan desain fasad dan fasilitas lain untuk memperkuat karakter serta identitas lembaga pendidikan calon perwira Polri tersebut.

“Pembenahan dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter khas Akpol, mulai dari gerbang, gedung Gubernur, ruang makan, hingga fasilitas taruna,” lanjut Komjen Dedi.

Akpol Dorong Transformasi Pendidikan

Modernisasi Akpol tidak hanya menyasar bangunan dan fasilitas fisik. Akpol juga mengembangkan transformasi pendidikan melalui digitalisasi, kelas tematik, penguatan pendidikan vokasi, serta peningkatan praktik dan pengalaman lapangan.

Transformasi tersebut menargetkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Akpol juga membekali taruna dengan kemampuan analisis, pemecahan masalah, serta pengalaman untuk menjadi pemimpin Polri pada masa mendatang.

Komjen Dedi menekankan pentingnya pengalaman lapangan dalam membentuk calon pemimpin Polri. Taruna perlu memahami persoalan kepolisian secara langsung, terutama pada tingkat kewilayahan.

“Taruna dipersiapkan untuk memahami secara langsung berbagai persoalan kepolisian di tingkat kewilayahan, khususnya di Polsek yang menjadi salah satu ujung tombak pelayanan kepada masyarakat,” tandasnya.

Komjen Dedi juga menekankan meritokrasi, kompetensi, dan pengalaman lapangan sebagai fondasi penting dalam menyiapkan the next leader di lingkungan Polri.

Kontribusi Alumni Lintas Angkatan

Modernisasi fasilitas Akpol dalam kegiatan tersebut juga melibatkan alumni dari sejumlah angkatan. Alumni Akpol 1996 Batalyon Wira Satya membangun dapur taruna beserta perlengkapannya.

Sementara itu, Alumni Akpol 2001 mengambil bagian dalam pembangunan fasilitas kepolisian. Alumni Akpol 2013 turut mendukung transformasi pendidikan melalui penyediaan dan penyempurnaan laboratorium komputer.

Kehadiran kontribusi lintas angkatan itu memperlihatkan kepedulian alumni terhadap keberlanjutan pendidikan di Akpol. Dukungan tersebut sekaligus memperkuat sinergi antara generasi alumni dengan institusi yang telah membentuk mereka sebagai perwira Polri.

Kegiatan modernisasi tersebut turut dihadiri Kalemdiklat Polri, Gubernur Akpol, para pejabat utama Lemdiklat Polri, pejabat utama Akpol, serta perwakilan Alumni Akpol 1996, Alumni Akpol 2001, dan Alumni Akpol 2013.

Melalui pembenahan fasilitas dan transformasi sistem pendidikan, Akpol menyiapkan lingkungan pendidikan yang semakin adaptif terhadap perkembangan zaman. Di sisi lain, kontribusi Alumni Akpol 1996 Batalyon Wira Satya menjadi bagian penting dari semangat menjaga almamater sekaligus menyiapkan fasilitas terbaik bagi generasi calon perwira Polri berikutnya.

Akpol Lakukan Modernisasi Sarana Pendidikan, Alumni Batalyon Wira Satya 1996 Ambil Bagian Aktif



REFORMASI-ID | Semarang - Akademi Kepolisian (Akpol) terus berbenah dan memodernisasi fasilitas pendidikan serta sarana penunjang di lingkungannya. Langkah strategis ini dilakukan demi meningkatkan kualitas pembentukan karakter, kompetensi, dan profesionalisme para calon perwira Polri di masa depan.

Upaya modernisasi kampus Akpol ini turut mendapat dukungan nyata dari para alumni, salah satunya Batalyon Wira Satya (Alumni Akpol 1996). 

Dukungan tersebut merupakan wujud kepedulian, rasa bangga, dan bakti alumni kepada almamater tercinta yang telah melahirkan serta membentuk mereka sebagai insan Bhayangkara.

Ketua Alumni Akpol 1996 Batalyon Wira Satya, Brigjen Pol Budhi Herdi Susianto, menyampaikan bahwa kontribusi yang diberikan oleh angkatannya merupakan bagian dari komitmen bersama alumni dalam mendukung transformasi pendidikan di lingkungan Akademi Kepolisian.

"Apa yang kami berikan ini adalah bentuk kontribusi aktif sekaligus bakti kami kepada almamater. Kami berharap modernisasi sarana dan fasilitas pendidikan ini dapat dinikmati oleh adik-adik taruna, sehingga proses belajar mengajar serta pelatihan dapat berjalan lebih optimal, modern, dan adaptif terhadap tantangan tugas ke depan," ungkap Brigjen Pol Budhi Herdi.

Modernisasi fasilitas di Akpol ini mencakup penguatan sarana hunian dan penunjang pendidikan, yang dirancang tidak hanya untuk memenuhi standar kenyamanan, tetapi juga memperkuat kedisiplinan dan integrasi ekosistem pendidikan modern.

Dukungan sinergis dari para alumni, seperti Batalyon Wira Satya 1996, menegaskan soliditas keluarga besar Polri dalam mencetak generasi penerus korps Bhayangkara yang berintegritas, berwawasan global, dan siap mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Dipimpin Brigjen Pol. Benny Ganda Sudjana, Baharkam Polri Mulai Audit Resertifikasi PT MRT Jakarta



REFORMASI-ID | Jakarta - Tim Auditor Sistem Pengamanan Objek Vital Nasional (Sispamobvitnas) Baharkam Polri resmi memulai rangkaian kegiatan Audit Resertifikasi Sistem Manajemen Pengamanan (SMP) di PT MRT Jakarta (Perseroda). Kegiatan hari pertama ini dilaksanakan di Ruang Rapat PT MRT Jakarta pada Selasa, 8 September 2026, mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB.

Rangkaian audit ini dipimpin langsung oleh Auditor Sispamobvitnas Utama Tk. II Baharkam Polri, Brigjen Pol. Dr. Benny Ganda Sudjana, S.I.K, M.H., selaku Penanggung Jawab. Hadir pula Kombes Pol. Joseph Febriano Hartono M, S.I.K. sebagai Ketua Tim, didampingi anggota tim Ipda. Tri Panji Yudha, S.H., Dra. Henny J.A. Posumah, M.M., Yuda Varian, S.I. Kom., serta Iptu. Nur Fajar Prasetyo, S.H. selaku Observer dari Polda Metro Jaya (PMJ).

Kedatangan tim auditor dari Mabes Polri ini disambut hangat oleh manajemen PT MRT Jakarta, yang diwakili oleh Kepala Divisi OSSQ Bapak Panji Arum Bismantoko dan Kepala Departemen Security Bapak Roy Nababan, beserta seluruh staf terkait.

Dalam sesi pembukaan, Brigjen Pol. Dr. Benny Ganda Sudjana, S.I.K, M.H. menegaskan pentingnya audit ini untuk memastikan aspek keselamatan dan keamanan di salah satu objek vital nasional transportasi darat tersebut tetap berada pada standar tertinggi.

"PT MRT Jakarta merupakan urat nadi transportasi publik di ibu kota yang melayani ratusan ribu warga setiap harinya. Melalui audit resertifikasi ini, kami dari Baharkam Polri ingin memastikan bahwa Sistem Manajemen Pengamanan yang diterapkan di sini tidak hanya memenuhi standar regulasi, tetapi juga adaptif terhadap potensi gangguan keamanan yang dinamis. Kerja sama yang baik dengan pihak manajemen sangat kami apresiasi guna mewujudkan ruang publik yang aman dan nyaman," ujar Brigjen Pol. Benny dalam sambutannya.

Merespons hal tersebut, Kepala Divisi OSSQ PT MRT Jakarta, Bapak Panji Arum Bismantoko, menyatakan komitmen penuh perusahaan terhadap proses resertifikasi ini sebagai wujud kepatuhan dan upaya peningkatan pelayanan yang berkelanjutan.

"Kami sangat menyambut baik kehadiran Tim Audit dari Baharkam Polri. Bagi MRT Jakarta, keamanan dan keselamatan pengguna jasa adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar. 

Kami berkomitmen untuk bersikap kooperatif dan transparan dalam menyajikan data serta membuka akses observasi lapangan, agar hasil audit ini dapat menjadi panduan bagi kami untuk terus menyempurnakan sistem pengamanan yang ada," tutur Panji.

Setelah acara pembukaan, tim auditor langsung bergerak melakukan observasi lapangan secara menyeluruh di area operasional PT MRT Jakarta guna meninjau implementasi sistem pengamanan fisik di area vital tersebut.

Pada sesi siang hingga sore hari, agenda difokuskan pada wawancara mendalam serta pemeriksaan dokumen yang berkaitan dengan Materi Elemen I SMP. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh standar baku sistem manajemen pengamanan berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Seluruh rangkaian kegiatan audit resertifikasi hari pertama ini dilaporkan berjalan dengan lancar, aman, dan tertib. Pelaksanaan audit ini juga ditembuskan kepada Dirpamobvit Korsabhara Baharkam Polri dan Kasubdit Audit Sispamobvitnas Ditpamobvit Korsabhara Baharkam Polri sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas kinerja kepolisian dalam mengawal objek vital nasional.

09 September 2026

UMI dan Unhas Perkuat Ekosistem Ilmu Kepolisian Hadapi Kompleksitas Zaman



REFORMASI-ID | Makassar, 9 September 2026 – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) bersama perguruan tinggi terus membangun ekosistem ilmu kepolisian untuk merespons kompleksitas persoalan masyarakat dan perkembangan zaman. Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) menjadi bagian dari penguatan ekosistem tersebut melalui pengembangan Pusat Studi Kepolisian dan kerja sama akademik dengan Polri.

Peresmian Pusat Studi Kepolisian Unhas berlangsung di Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, Rabu (9/9/2026). Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo memberikan sambutan secara virtual dari Jakarta.

Dalam sambutannya, Wakapolri menyampaikan penghargaan kepada Unhas dan UMI yang telah membuka ruang kolaborasi antara kepolisian dan dunia akademik.

“Bagi Polri, perguruan tinggi merupakan mitra penting dalam memperkaya perspektif dan mengembangkan ilmu kepolisian. Kami sangat menghargai keterbukaan kampus untuk bersama-sama membangun pengetahuan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Wakapolri.

Wakapolri menilai Pusat Studi Kepolisian perlu dikembangkan sesuai dengan karakter, kompetensi, dan keunggulan masing-masing perguruan tinggi. Dengan demikian, keberagaman fokus kajian justru menjadi kekuatan dalam membangun jejaring keilmuan kepolisian secara nasional.

Unhas: Menghubungkan Ilmu dengan Persoalan Masyarakat

Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa menilai kolaborasi dengan Polri memiliki makna strategis bagi dunia akademik maupun kepolisian.

“Polisi membutuhkan ilmu untuk menghadapi kompleksitas zaman, dan ilmu membutuhkan polisi untuk memastikan bahwa pengetahuan benar-benar hadir di tengah persoalan masyarakat,” ujar Jamaluddin.

Menurutnya, Pusat Studi Kepolisian harus menjadi ruang yang mempertemukan teori, penelitian, dan persoalan nyata di masyarakat.

“Pusat studi ini jangan hanya menjadi lembaga yang dibentuk secara administratif. Kita ingin menjadi ruang yang hidup untuk berdiskusi, melakukan penelitian, dan menghasilkan kajian yang dapat menjawab persoalan nyata di masyarakat,” katanya.

Ia menilai persoalan seperti destructive fishing membutuhkan keterlibatan berbagai bidang ilmu agar dapat dilihat secara komprehensif.

Unhas pun membuka peluang kolaborasi lintas disiplin untuk menghasilkan kajian dan rekomendasi yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dan institusi penegak hukum.

UMI: Kolaborasi yang Saling Menumbuhkan

Sementara itu, Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib diwakili Wakil Rektor II Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng.

Zakir menegaskan bahwa hubungan Polri dan UMI dibangun dengan semangat kemitraan dan saling memperkuat.

“Polri dan UMI saling menumbuhkan. Polri memiliki pengalaman dan pengetahuan dari berbagai persoalan nyata di lapangan, sedangkan UMI memiliki sumber daya manusia, kapasitas penelitian, teknologi, dan berbagai disiplin ilmu. Keduanya dapat dipertemukan untuk saling memperkuat,” ujar Zakir.

Ia menjelaskan, UMI memiliki kekuatan keilmuan yang beragam, termasuk hukum, teknologi, kecerdasan buatan, keamanan siber, ekonomi, energi, kesehatan, lingkungan, agama, dan ilmu sosial.

Keragaman tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk mengembangkan kajian kepolisian yang lebih komprehensif.

“Kita ingin Pusat Studi Kepolisian menjadi ruang untuk menghasilkan kajian, inovasi, dan rekomendasi. Bukan hanya membicarakan persoalan setelah terjadi, tetapi juga membantu membaca risiko dan menyiapkan berbagai kemungkinan sejak dini,” katanya.

Memperkuat Evidence-Based Policing

Wakapolri menjelaskan bahwa pengembangan jejaring Pusat Studi Kepolisian juga menjadi bagian dari penguatan pendekatan evidence-based policing, yakni pengembangan praktik kepolisian yang didukung oleh data, penelitian, dan pengujian ilmiah.

Melalui pendekatan tersebut, pengalaman praktis kepolisian dapat dipertemukan dengan metodologi dan perspektif akademik untuk menghasilkan pengetahuan yang relevan sekaligus dapat diterapkan.

“Kami berharap pusat studi ini dapat menjadi jembatan yang mempertemukan pengalaman praktis kepolisian dengan kekayaan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi. Dari sana kita dapat saling belajar dan bersama-sama mencari solusi yang terbaik,” ungkap Wakapolri.

Menurutnya, mahasiswa juga memiliki posisi penting dalam ekosistem tersebut. Pemikiran kritis, kreativitas, dan perspektif generasi muda dapat menjadi bagian dari proses pengembangan ilmu kepolisian.

Jejaring Nasional Terus Diperluas

Hingga saat ini, Polri telah menjalin 79 MoU dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia, dengan 41 perguruan tinggi telah meresmikan dan mengoperasionalkan Pusat Studi Kepolisian.

Di lingkungan internal Polri juga telah dikembangkan 16 Pusat Studi Kepolisian dengan fokus keilmuan yang beragam, mulai dari Polmas, antikorupsi, terorisme, siber, SDM, teknologi kepolisian, forensik, keamanan nasional, keadilan restoratif dan transformasi konflik, hingga intelijen kepolisian.

Wakapolri berharap jejaring tersebut tidak sekadar menjadi jaringan kelembagaan, tetapi berkembang menjadi jaringan pengetahuan yang saling terhubung.

“Ukuran keberhasilan kita bukan semata-mata berapa banyak kerja sama yang dibuat atau berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Yang jauh lebih penting adalah seberapa besar pengetahuan, penelitian, dan kolaborasi tersebut dapat memberikan manfaat serta menghadirkan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat,” pungkas Wakapolri.

Wakapolri Ajak Kampus dan Mahasiswa Bersama Wujudkan Polri yang Semakin Baik



REFORMASI-ID | Makassar, 9 September 2026 – Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo mengajak perguruan tinggi, akademisi, peneliti, dan mahasiswa untuk terus memperkuat kolaborasi dengan Polri dalam mengembangkan ilmu kepolisian, memperkaya perspektif, serta menghadirkan gagasan dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan Wakapolri secara virtual dari Jakarta dalam peresmian Pusat Studi Kepolisian Universitas Hasanuddin (Unhas) yang berlangsung di Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, Rabu (9/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Polri juga memperkuat kerja sama dengan Universitas Hasanuddin dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai bagian dari pengembangan jejaring Pusat Studi Kepolisian di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia.

Wakapolri menyampaikan apresiasi kepada Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa beserta seluruh sivitas akademika Unhas dan Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib beserta seluruh sivitas akademika UMI atas keterbukaan dan komitmen dalam membangun ruang kolaborasi antara Polri dan dunia akademik.

“Kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Rektor dan seluruh sivitas akademika atas prakarsa dan komitmen dalam mewujudkan Pusat Studi Kepolisian ini. Keikutsertaan perguruan tinggi merupakan langkah penting untuk memperluas jejaring kolaborasi akademis di bidang ilmu kepolisian, memperkuat Tridharma Perguruan Tinggi, serta mendukung transformasi Polri,” ujar Wakapolri.

Menurut Wakapolri, kolaborasi tersebut merupakan hubungan yang saling melengkapi. Polri memiliki pengalaman dan pengetahuan praktis dari berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan, sementara perguruan tinggi memiliki kekuatan akademik, metodologi penelitian, serta kekayaan perspektif keilmuan.

“Kami mengajak seluruh pengelola Pusat Studi Kepolisian, akademisi, peneliti, mahasiswa, dan jajaran Polri untuk menjadikan pusat studi ini sebagai ruang kolaborasi yang hidup dan produktif. Jangan berhenti pada pembentukan kelembagaan, tetapi mari hadirkan riset, gagasan, pemikiran kritis, dan rekomendasi yang dapat menjawab permasalahan nyata di lapangan,” katanya.

Wakapolri juga mengajak mahasiswa untuk mengambil bagian dalam ekosistem kolaborasi tersebut. Menurutnya, mahasiswa memiliki kreativitas, energi, dan perspektif generasi muda yang dapat memperkaya kajian mengenai kepolisian dan berbagai dinamika sosial.

“Kami sangat menghargai pemikiran, kritik, dan masukan dari lingkungan akademik. Melalui ruang dialog yang terbuka dan konstruktif, kita dapat saling belajar dan bersama-sama mencari pendekatan yang lebih baik untuk kepolisian dan masyarakat,” tutur Wakapolri.

Unhas: Ilmu dan Kepolisian Saling Membutuhkan

Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa menyampaikan apresiasi atas terbangunnya kolaborasi dengan Polri. Menurutnya, hubungan antara kepolisian dan perguruan tinggi memiliki arti penting dalam menghadapi kompleksitas persoalan masyarakat.

“Polisi membutuhkan ilmu untuk menghadapi kompleksitas zaman, dan ilmu membutuhkan polisi untuk memastikan bahwa pengetahuan benar-benar hadir di tengah persoalan masyarakat,” ujar Jamaluddin.

Ia berharap Pusat Studi Kepolisian Unhas menjadi ruang akademik yang hidup, tidak hanya dalam diskusi, tetapi juga melalui penelitian dan kajian yang memberikan manfaat nyata.

Salah satu persoalan yang dapat dikembangkan adalah destructive fishing atau praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. Menurut Jamaluddin, persoalan tersebut memiliki dimensi hukum, lingkungan, keselamatan masyarakat, dan sosial sehingga membutuhkan pendekatan lintas disiplin.

“Kita perlu mempertemukan berbagai disiplin ilmu agar persoalan yang dihadapi masyarakat dapat dilihat secara lebih utuh dan menghasilkan rekomendasi yang benar-benar bermanfaat,” katanya.

Jamaluddin menegaskan Unhas terbuka menjadi ruang kolaborasi bagi Polri dan berbagai pihak dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta memberikan kontribusi bagi bangsa.

UMI: Polri dan UMI Saling Menumbuhkan

Dalam kegiatan tersebut, Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib diwakili Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Keuangan, dan Pengembangan Ketenagaan UMI, Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng.

Zakir menyampaikan bahwa kerja sama dengan Polri merupakan bentuk komitmen UMI untuk membuka kekuatan akademik dan sumber daya perguruan tinggi dalam membantu menjawab berbagai persoalan nyata di masyarakat.

“Prinsip kami sederhana, Polri dan UMI saling menumbuhkan. Polri memiliki pengalaman dan pengetahuan dari berbagai persoalan nyata di lapangan, sementara UMI memiliki sumber daya manusia, kapasitas akademik, teknologi, dan berbagai disiplin ilmu. Ketika kedua kekuatan ini dipertemukan, kita berharap lahir pengetahuan dan solusi yang memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat,” ujar Zakir.

Menurutnya, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, keamanan siber, ekonomi, energi, kesehatan, lingkungan, dan dinamika sosial membutuhkan kajian yang tidak terbatas pada satu disiplin ilmu.

“UMI memiliki kekuatan keilmuan yang beragam. Kekuatan tersebut siap kita kolaborasikan bersama Polri, sehingga Pusat Studi Kepolisian tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi ruang untuk menghasilkan kajian, inovasi, dan rekomendasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.

79 MoU dengan Perguruan Tinggi

Saat ini Polri telah menjalin 79 nota kesepahaman (MoU) dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia, dan 41 di antaranya telah meresmikan serta mengoperasionalkan Pusat Studi Kepolisian.

Selain jejaring eksternal tersebut, Polri juga telah mengembangkan 16 Pusat Studi Kepolisian internal dengan berbagai fokus keilmuan, antara lain Polmas, antikorupsi, terorisme, ilmu kepolisian, lalu lintas, siber, SDM, teknologi kepolisian, forensik, keamanan nasional, keadilan restoratif dan transformasi konflik, serta intelijen kepolisian.

Wakapolri berharap jejaring tersebut terus berkembang menjadi ekosistem keilmuan yang terbuka, produktif, dan saling menguatkan.

“Setiap perguruan tinggi memiliki kekuatan dan keunggulan masing-masing. Kami berharap kekuatan tersebut dapat berkembang melalui kolaborasi yang sesuai dengan karakter dan kompetensi masing-masing kampus. Dengan demikian, jejaring ini akan semakin kaya dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pengembangan ilmu kepolisian,” ujarnya.

“Mari kita bangun jejaring keilmuan yang semakin kuat, terbuka, dan berkelanjutan, sehingga setiap pengetahuan yang dihasilkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan praktik kepolisian yang semakin profesional, adaptif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkas Wakapolri.