HPN 2027 dan Arah Baru Pers Lampung: Menagih Kebijakan di Era Disrupsi - Media Reformasi Indonesia (MRI)

21 Agustus 2026

HPN 2027 dan Arah Baru Pers Lampung: Menagih Kebijakan di Era Disrupsi


REFORMASI-ID | LAMPUNG - ​Penunjukan Provinsi Lampung sebagai tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) dan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2027 tiba pada momen yang sangat krusial. Di tengah kepungan disrupsi digital, banjir informasi media sosial, dan erosi kepercayaan publik terhadap karya jurnalistik, gelaran skala nasional ini tidak boleh sekadar menjadi seremonial megah atau ajang kumpul-kumpul rutin insan pers. HPN 2027 di tanah Sai Bumi Ruwa Jurai harus dijadikan momentum reaktualisasi dan pemaknaan ulang peran pers bagi masyarakat. Jumat, 21/08/2026.

​Dunia jurnalistik hari ini diuji oleh kecepatan yang sering kali mengorbankan akurasi, serta komersialisasi yang mengikis fungsi kontrol sosial. Dalam konteks ini, narasi rekam jejak tokoh pers senior Lampung seperti (Alm.) Kgs. Achmad Effendi (Bang Fendi)—sebagaimana dipaparkan oleh Kgs. Dedi Miryanto (asn Lamsel,putra almr.bang Fendi) dan Dr. Erry Setianegara(pakar hukum & ahli hukum pidana) menjadi cermin penting. 

Filosofi mendalam “Tidak selesai dunia ini, dengan kita sendiri” menyentuh akar terdalam fungsi pers: jurnalisme bukanlah panggung ego personal atau kelompok, melainkan kerja kolaboratif untuk kepentingan publik yang lebih luas.

​Menjadi tuan rumah HPN dan Porwanas 2027 memberi Lampung dua peluang strategis sekaligus:

​Etalase Budaya dan Identitas Daerah: Pers memiliki kekuatan naratif untuk memperkenalkan kekayaan tradisi, kearifan lokal, dan kehangatan masyarakat Lampung ke panggung nasional hingga internasional, melampaui stigma lama yang kerap melekat.

​Katalis Transparansi Pembangunan: Pers tidak hanya bertindak sebagai pemandu sorak (cheerleader) pembangunan daerah, tetapi juga sebagai pengawas yang kritis dan konstruktif (watchdog) guna memastikan akselerasi infrastruktur dan peningkatan kualitas SDM benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

​Sinergi antara pemerintah daerah dan insan pers memang dibutuhkan untuk menciptakan kondusivitas wilayah. Namun, sinergi yang sehat tidak boleh membungkam daya kritis. Pers yang ideal di era kekinian adalah pers yang mampu mengemong, merangkul kemitraan strategis, tetapi tetap teguh berdiri di atas independensi dan kode etik kewartawanan.

​Gelaran HPN 2027 kelak harus meninggalkan warisan yang konkret: lahirnya ekosistem pers daerah yang lebih profesional, bermartabat, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Lampung tidak hanya siap menjadi tuan rumah yang ramah, tetapi juga siap menjadi percontohan bagaimana nilai-nilai luhur jurnalisme masa lalu mampu membimbing arah baru pers masa kini. (DM/MDN) 


Comments