Mereka belum tahu apa itu AMDAL.
Tidak mengerti UKL-UPL.
Apalagi memahami siapa yang berwenang mengawasi sebuah stockpile batubara.
Yang mereka tahu hanya satu.
Hari itu mereka ikut ibu dan ayahnya ke Jakarta Timur.
Bukan ke taman bermain.
Melainkan ke halaman Graha Intirub, Kantor Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta.
Selasa pagi, 4 Agustus 2026.
Suara pengeras terdengar bersahutan di depan gedung pemerintah itu.
Di sela-selanya terdengar tawa anak-anak.
Sebuah ironi.
Orang-orang dewasa menyampaikan tuntutan agar lingkungan tempat tinggal mereka lebih sehat.
Sementara anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun.
Sebagian bermain di trotoar.
Sebagian menikmati roti dan air minum yang dibagikan.
Ada yang tertidur di pangkuan ibunya.
Ada pula balita yang terus digendong sepanjang aksi berlangsung.
Mereka tidak membawa spanduk.
Tetapi sesungguhnya merekalah isi dari seluruh tuntutan hari itu.
Masa depan.
Sekitar 150 warga yang tergabung dalam Paguyuban Kampung Sawah RT 06, RT 08, dan RT 09 RW 08 Kelurahan Cakung Barat datang menggunakan belasan angkot. Mereka membawa satu harapan yang sederhana: suara mereka didengar.
Mereka menolak keberadaan stockpile batubara PT Berkah Batu Agung yang berada tidak jauh dari permukiman. Menurut mereka, aktivitas tersebut menimbulkan gangguan terhadap lingkungan dan kesehatan warga. Atas dasar itu mereka meminta pemerintah mengevaluasi izin, memeriksa dokumen lingkungan, memulihkan lingkungan apabila ditemukan pencemaran, serta memberikan kepastian hukum atas berbagai keluhan yang selama ini mereka sampaikan.
Seorang ibu berdiri sambil menggandeng anak balitanya.
Wajahnya lelah.
Namun matanya tetap menatap ke arah mobil komando.
Sesekali ia mengusap keringat anaknya.
Tak jauh dari situ, beberapa anak mengenakan kaus oranye saling bercanda. Mereka tertawa, berlari, dan memainkan mainan gelembung sabun.
Tak ada yang menyangka mereka sedang berada di tengah sebuah demonstrasi.
Bagi mereka, hari itu seperti bermain bersama teman-teman.
Bagi orang tuanya, itu adalah ikhtiar terakhir setelah merasa berbagai keluhan belum memperoleh jawaban yang memuaskan.
Di tengah kerumunan, Mahar Prastowo, Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kelurahan Kebon Pala—wilayah tempat Kantor Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta berada—menerima beberapa lembar berkas dari para pendemo. Berkas-berkas itu berisi salinan dokumen medis, hasil pemeriksaan kesehatan, serta sejumlah dokumen yang menurut warga menjadi bagian dari alasan mereka menolak keberadaan stockpile batubara di dekat permukiman. Dokumen tersebut tentu bukan kesimpulan ilmiah mengenai penyebab penyakit, namun bagi warga itulah cara mereka menunjukkan bahwa keluhan yang disampaikan memiliki dasar yang mereka anggap perlu mendapat perhatian pemerintah.
Ada resume medis pasien dengan gangguan paru.
Ada hasil pemeriksaan laboratorium.
Ada pula dokumen pemeriksaan TBC.
Semua diserahkan sebagai bagian dari aspirasi yang ingin mereka sampaikan kepada pemerintah.
Di ruang mediasi, sepuluh perwakilan warga diterima oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta.
Pihak DLH menjelaskan bahwa kewenangan pengawasan bergantung pada instansi yang menerbitkan dokumen lingkungan. Apabila dokumen diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, maka pengawasan berada pada kementerian tersebut. DLH DKI juga menyatakan akan menyurati Kementerian Lingkungan Hidup untuk menindaklanjuti aspirasi masyarakat dan memberikan tembusan kepada perwakilan warga.
Bagi birokrasi, penjelasan itu penting.
Namun bagi warga, persoalannya jauh lebih sederhana.
Mereka tidak sedang memperdebatkan batas kewenangan.
Mereka hanya ingin mengetahui apakah lingkungan tempat mereka tinggal benar-benar aman untuk keluarga mereka.
Pukul 12.15 WIB aksi berakhir.
Tidak ada pagar yang roboh.
Tidak ada batu yang dilempar.
Tidak ada bentrokan.
Massa pulang dengan tertib.
Anak-anak kembali naik angkot.
Sebagian tertidur bahkan sebelum kendaraan meninggalkan halaman Graha Intirub.
Mungkin mereka mengira hari itu hanyalah perjalanan bersama ibu dan ayah.
Kelak, ketika mereka dewasa, mungkin mereka baru memahami mengapa orang tua mereka rela berdiri berjam-jam di bawah terik matahari.
Bukan karena gemar berdemo.
Melainkan karena ingin memastikan anak-anaknya tumbuh di lingkungan yang sehat.
Pada akhirnya, foto yang paling kuat dari aksi itu bukanlah mobil komando.
Bukan pula spanduk bertuliskan tuntutan.
Melainkan seorang ibu yang menggenggam tangan anaknya dengan erat.
Karena setiap persoalan lingkungan, pada akhirnya, selalu bermuara pada pertanyaan yang paling sederhana:
Udara seperti apa yang akan diwariskan kepada anak-anak kita?
(mri/editorial)
